Catatan Gantyo

JADI PRESIDEN BERMODAL BBM RP 1.500

3 4
Oleh Gantyo Koespradono

PERTAMA kali bertemu, laki-laki itu memberikan soal pelajaran bahasa Indonesia kepada saya. “Ayah ke pasar ………… daging. Silakan isi titik-titik itu dengan kata apa,” kata laki-laki berusia 42 tahun itu.

Spontan saya jawab, “membeli”. Segera dia menjawab: “Nah, itulah kebiasaan orang Indonesia hasil didikan orangtua dan nenek moyang kita. Sejak dulu sampai sekarang, kita dididik supaya jadi bangsa yang bisanya cuma membeli dan tidak pernah menjual. Kalau kenyataannya seperti ini, bagaimana bangsa kita bisa maju,” katanya.

Pikiran bawah sadar kita sejak kanak-kanak memang banyak dicekoki oleh para orangtua – juga guru-guru kita – bahwa kalau kita pergi ke pasar adalah untuk keperluan “membeli”, padahal faktanya di pasar juga ada proses “menjual.” Tapi kalau pertanyaan tadi diajukan kepada kita, sangat mungkin jawabannya akan sama, kita ke pasar – apa pun alasannya – adalah untuk keperluan membeli sesuatu bukan menjual sesuatu.

Lalu apa kaitannya soal “membeli” dan “menjual” tadi dengan keberadaan bangsa kita yang sampai sekarang tidak juga maju-maju? Omong punya omong, laki-laki tadi – selanjutnya saya sebut saja dengan Mr X – mengaku menemukan teknologi sederhana yang mampu menjadikan biota laut seperti rumput laut menjadi bahan bakar minyak (BBM).

BBM alternatif temuannya, menurut dia, mampu menggantikan BBM seperti premium yang sekarang ini harganya Rp 4.500 per liter. BBM bikinannya, kata Mr X, kalau dijual, harganya bisa cuma Rp 1.500 per liter, bahkan kurang. Jika BBM ini diproduksi secara massal, menurut dia, mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat, sebab bahan bakunya bisa dibudidayakan di daratan. Lebih dari itu, rakyat bisa mendapatkan BBM dengan harga yang sangat murah; negara tidak perlu repot-repot lagi memberikan subsidi.

Mr X mengatakan, dirinya sudah sering mempresentasikan temuannya ini ke berbagai instansi berwenang, termasuk di depan para anggota DPRD Yogyakarta. Namun sampai sejauh ini tidak mendapat tanggapan, padahal BBM temuannya itu juga sudah diuji coba oleh sejumlah anggota dewan. “Saya malah dianggap gila, pembohong. Ada pula yang mengatakan saya penganut aliran klenik,” katanya.

Bukan cuma BBM alternatif. Mr X yang memiliki latar belakang pendidikan filsafat ini juga mengaku bisa menciptakan energi listrik berbahan baku udara (oksigen) dengan alat bantu yang sederhana. Sebagai langkah awal, dia akan melakukan uji coba di sebuah kecamatan di Yogyakarta. Listrik ala Mr X ini nantinya mampu mengaliri listrik di kecamatan tersebut, sehingga warga di sini tidak perlu lagi berlangganan listrik dari PLN. “Aliran listrik dari PLN akan diputus. Nantinya warga cukup bayar biaya abonemen saja,” kata Mr X sangat meyakinkan.

Jauh sebelumnya, Mr X juga sudah menemukan pupuk formula khusus yang mampu meningkatkan produksi padi petani dari yang biasanya 4-5 ton per hektare menjadi 9-10 ton per hektare. Mr X pulalah yang belum lama ini diberitakan menemukan padi (beras) merah putih yang dipopulerkan dengan nama RI-1. Punya pakan ternak dengan formula khusus, Mr X juga mampu membuat para peternak di Yogyakarta bergembira, sebab sapi, ayam dan ikan yang mereka ternakkan tambun-tambun dan sehat.

Temuan seperti itulah yang kelak mampu menjadikan bangsa Indonesia sebagai negeri penjual, bukan negeri yang bisanya cuma membeli seperti yang selama ini dilakukan. Saya bertanya, mengapa tidak segera saja diproduksi secara massal, sehingga temuannya bisa segera dinikmati masyarakat?

“Nggak ada artinya kalau itu yang saya lakukan. Untuk apa kalau hanya saya saja yang kaya, sementara rakyat masih menderita dan miskin. Buat apa pula kalau nantinya hanya investor yang untung sementara nasib rakyat tetap buntung,” katanya.

Jadi presiden

Konkretnya, BBM alternatif temuannya, juga pupuk, energi listrik, padi varietas baru, harus dijadikan sebagai kebijakan nasional. Ah, siapa yang peduli? Benar, karena tidak ada yang peduli, “Kita harus berani potong generasi,” kata Mr X. Caranya? Jawabannya sungguh amat mengejutkan. “Saya harus bisa jadi presiden,” ujarnya.

Rupanya bagi Mr X, itulah satu-satunya cara agar masyarakat sejahtera dan Indonesia dipandang oleh negara-negara lain, tidak seperti sekarang ini di mana Indonesia hanya dipandang sebelah mata dan dijadikan sebagai objek dagang, karena jumlah penduduk negeri ini yang begitu besar.

Sampai sedemikian jauh, saya belum mendapatkan informasi langkah seperti apa yang akan dilakukannya untuk menuju ke RI-1, istilah yang sama untuk padi/beras merah putih temuannya. Namun bisik-bisik menyebutkan dia sudah merintis untuk berkolaborasi dengan anak-anak muda yang selama ini konsern untuk memajukan Indonesia.

Namun yang pasti, berdasarkan pengakuannya, dia sudah siap jadi presiden. Dia memang tidak perlu memiliki motivasi menjadi presiden agar bisa kaya, sebab dia sudah kaya. “Rumah saya di Yogyakarta bernilai Rp 5 miliar,” katanya.

Sombong. Itulah yang saya pikirkan begitu mendengar dia menuturkan nilai rumahnya yang lima miliar. Namun dalam hati saya berkata: “Jangan-jangan, RI mendatang memerlukan presiden bertipe seperti dia.”

Mengutip mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, Jakob Sumardjo dalam artikelnya di Kompas belum lama ini mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang presiden, dia tidak harus pintar, tapi punya kekuatan (massa) dan berani melakukan sesuatu, meskipun sesuatu itu tidak populer. Memberikan contoh, Jakob Sumardjo menulis, meskipun pintar, Gunawan Mohamad tidak layak jadi presiden. “Apa jadinya kalau Indonesia dipimpin oleh seorang bernama Gunawan Mohamad,” katanya.

Masih menurut Jakob Sumardjo, Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pemikir juga tidak pantas jadi presiden. “Bagaimana Gus Dur bisa jadi presiden kalau semua orang diperlakukan sama dan setiap pendapat selalu didengar,” katanya. Cak Nur dan Gus Dur memang hanya pantas jadi guru bangsa.

Dalam soal kekuatan (massa), sepanjang apa yang saya dengar dari Mr X dan sahabatnya, Mr X punya massa, yaitu rakyat kecil di Yogyakarta yang sehari-hari bertandang ke rumahnya hanya untuk makan dan bercengkerama. Rumah Mr X di Yogyakarta tidak pernah tutup. Mr X juga punya keberanian. Kabarnya dia masih doyan demonstrasi untuk membela rakyat yang dirugikan akibat pembangunan yang sembarangan.

Ada kekuatan lain yang juga dimiliki Mr X – jika apa yang dikatakannya benar – dia menguasai teknologi baru yang darinya sangat mungkin bukan saja Indonesia yang bakal berubah, tapi juga dunia, karena Indonesia telah berani menjadi bangsa penjual, bukan lagi pembeli.*

3 Comments
  1. aruka says

    dapatkah saya bertanya..siapakah Mr.X ini o,O?

  2. Maaf, saya tidak bisa memberitahukan siapa sesungguhnya Mr X, sebab itu kesepakatan saya dengannya, kecuali pada saatnya. Menjelang pemilu nanti, dia akan membeberkan semuanya, termasuk BBM yang harganya Rp 1.500 per liter itu.

  3. aruka says

    ah.s.ayang sekali..padahal saya mempunyai ide yg bagus agar para wisatawan asing bisa berkunjung ke YOgya ^^

Leave A Reply

Your email address will not be published.