Catatan Gantyo

KESAKSIAN MANTAN PELACUR (2)

0 2

Ini adalah catatan saya terakhir di blog ini. Catatan berikutnya akan ditulis  dalam sebuah buku  yang akan segera terbit:

SUNGGUH amat menjijikkan manakala aku mengenang peristiwa itu. Tega nian ibuku menjual tubuhku kepada seorang lelaki-laki yang pantas kupanggil sebagai kakek. Belakangan aku mengetahui nama kakek tidak tahu diri ini adalah Kim Tang.

Usia laki-laki itu 67 tahun. Badannya tambun, beratnya kutaksir 80 kilogram. Bibir bawahnya agak maju dan giginya tak beraturan, mirip gigi buto cakil, sosok antagonis di dunia perwayangan. Laki-laki seperti inilah yang secara leluasa telah menikmati tubuhku, sementara aku tidak sadarkan diri karena pengaruh obat yang diberikan ibu kepadaku sebelum permainan dosa itu dimulai.

Sehari-hari Kim Tang berjualan tekstil dan punya toko di kawasan Jl Toko Tiga, Kota, Jakarta. Bersama ibu, aku sering ke tokonya. Tapi pada saat itu, aku tidak tahu siapa sebenarnya kakek berbibir dower itu, terutama hubungan antara dirinya dengan ibu, juga dengan ayahku. Usiaku yang 11 tahun tidak berusaha ingin tahu. Juga ketika laki-laki itu diam-diam menggerayangi tubuhku di saat aku tidak berdaya.

Sebelum aku dibius dengan pil hingga aku tak berdaya, di siang itu, Kim Tang masih menjamu ibu dan aku makan siang di restoran yang ada di motel tersebut. Ibu dan Kim Tang asyik sekali saat berbincang-bincang. Namun aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sebab keduanya menggunakan bahasa Mandarin.

Sebagai seorang bocah yang belum tahu apa-apa, aku hanya bisa bengong di tempat itu. Saat mereka berbicara, mata Kim Tang sering memandang ke sosokku. Di mataku, sikap Kim Tang yang seperti itu, tentu tidak ada artinya. Bagiku Kim Tang adalah seorang opa yang saat itu berusaha menumpahkan kasih sayangnya kepada ibu dan aku. Siang itu aku lebih memfokuskan kepada makanan yang ada di depanku daripada pembicaraan Kim Tang dan ibuku yang sama sekali kutak mengerti.

Aku tidak tahu, ketika aku tidak sadarkan diri, dengan cara dan gaya seperti apa Kim Tang menikmati tubuhku yang polos. Kalau pun aku sadar, aku juga tidak tahu, apakah ini yang namanya pemerkosaan, hubungan seks, atau hubungan badan antara laki-laki dan perempuan. Tentunya, aku juga tidak tahu perasaan seperti apa yang ada pada seorang laki-laki tatkala melihat seorang anak perempuan yang tidur tidak berdaya tanpa busana. 

Aku juga tidak tahu, bayangan seperti apa yang berputar-putar di otak kotornya ketika Kim Tang pertama kali melihat sosokku, mengajakku makan bersama pada siang itu, atau ketika melakukan transaksi dengan ibu. Membayangkan kemungkinan pun aku tidak bisa, sebab di saat itu sebagai seorang bocah, aku hanya ingin bermain boneka, bermain bersama dengan teman-teman sebaya dan hidup bersenang-senang layaknya anak-anak.

Aku pun tidak bisa mengerti dan sulit untuk diberi pengertian, apa enaknya menggauli seorang bocah, sementara sang bocah tidak memberikan reaksi apa-apa. Sang bocah, diriku, baru bereaksi setelah semuanya telah terjadi. Reaksi spontan yang ada pada diriku adalah aku merasa sakit, terutama di sekitar pangkal pahaku. Sakit itu kurasakan selama lima hari.

Aku memang terhibur setelah ibu memeriku kalung emas imitasi yang kemudian melingkar di leherku. Aku bangga. Aku merasa seperti bidadari. Kata-kata ibu “mau nggak hidup enak” terngiang-ngiang di telingaku.

Seminggu setelah peristiwa itu, ibu mengajakku ke tokonya Kim Tang di Jl Toko Tiga. Ke sana untuk mengantarkan sepucuk surat yang ditulis oleh ibu dalam bahasa Mandarin. Namun setibanya di sana, aku yang diminta ibu untuk menyerahkan surat itu kepada Kim Tang. Sedangkan ibu menunggu di luar, di depan toko, berbincang-bincang dengan penjual mie di situ. 

Di dalam toko, aku melihat Kim Tang sedang asyik berbicara dengan dua orang. Aku tidak tahu, mereka anak buah Kim Tang atau pembeli. Melihat bibir dowernya, aku bertanya-tanya di dalam hati, laki-laki ini bapakku atau bukan.

Pikiran itu muncul, sebab ayah kandungku tidak pernah memberikan perhatian kepadaku, kakak dan adik-adikku, sementara Kim Tang akrab dengan ibu, bahkan bersama-sama makan siang di restoran dan dia yang membayar itu semua. Karena sering memegang tanganku, aku menyangka, jangan-jangan Kim Tang adalah bapakku yang asli, atau bisa juga ini ayah angkatku yang baik hati.

“Ini dari Mama,” kataku sambil menyodorkan surat titipan ibu kepada Kim Tang. Menerima surat itu, Kim Tang berusaha ramah kepadaku. Dia tersenyum. Bibir dowernya semakin tidak sedap dipandang.

Kim Tang kemudian berkata kepadaku yang aku tidak tahu apa maknanya. Dengan bahasa Indonesia yang cadel dan logat Cina yang amat kental, dia berujar: “Minggu lalu aku, kan habis nidurin kamu.”

Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “nidurin.” Belum sempat menjabarkan dan mengartikan kata itu, Kim Tang kembali bertanya kepadaku, “enak nggak?”

“Enak apanya?” saya bingung dengan pertanyaannya.

Aku tetap tak habis mengerti. Mungkin Kim Tang sadar dengan kepolosan dan kebingunganku. Setelah membaca surat ibu, tak lama kemudian Kim Tang memberi aku uang, masing-masing Rp 2.000 untukku dan Rp 5.000 untuk ibu. Uang yang untuk ibu dimasukkan dalam amplop.

Namun uang yang kupegang pemberian Kim Tang akhirnya diambil ibu. Berkali-kali ibu melakukan kunjungan ke toko Kim Tang. Setibanya di sana, seperti biasa, ibu tidak pernah menjumpai lelaki tua itu. Ibu selalu menunggu di kios penjual bakmi.

Tiga bulan setelah peristiwa itu, pada suatu hari, ibu menyapaku, “Cu, mau duit nggak?” 

Ditanya seperti itu, aku menjawab “mau”. Tapi begitu ibu memberitahu caranya, yaitu tidur bersama Kim Tang, aku menolak dan memberontak padahal saat itu ibu dan Kim Tang sudah terlanjur berada di motel seperti dulu.

Dibujuk rayu, aku tetap memberontak. Karena kesal, aku ditarik pulang ke rumah di Jembatan Baru, Jl Gunung Sahari. Setibanya di rumah, baju yang aku kenakan dicopot secara paksa oleh ibu, lalu dibakar.

Kepada ayah, ibu melaporkanku sebagai anak yang tidak menurut kepada orang tua. Ayah ikut marah dan memukulku. “Dasar anak badung,” teriak ayah.

Waktu itu aku tidak tahu, apakah Papa mengetahui apa yang diperbuat ibu saat Papa tidak ada di rumah. Aku juga tidak tahu, apakah Mama dan Papa sudah kongkalikong dalam soal ini, termasuk menjadikan tubuhku sebagai barang dagangan.

Pasti atas prakarsa Kim Tang, ibu mengiming-imingi aku uang Rp 20.000. Jumlah yang tentu amat besar pada saat itu. Aku masih ingat, harga emas pada saat itu Rp 1.900 per gram.

Aku tak berdaya. Bersama ibu, kami naik taksi berwarna kuning (Presiden Taksi) ke Ancol, menemui Kim Tang di tempat yang sama. Setibanya di sana, lelaki uzur itu sudah menunggu. Prosesinya sama, kami diajak makan siang bersama di restoran yang sama. Setelah itu kami masuk ke kamar yang telah dipesan Kim Tang.

Begitu Kim Tang mengajak kencan dan berniat meniduriku, aku menolak dan meronta. Kim Tang marah, lalu lapor ke ibuku. Ibu kemudian menjajali mulutku dengan pil BK. Antara sadar dan tidak, ibu merobek-robek baju yang kukenakan. Setelah itu badanku lemas dan tidak sadar.

Untuk kedua kalinya Kim Tang melampiaskan sisa-sisa nafsunya di hari tuanya ke tubuhku yang tak memiliki kesadaran apa-apa. Aku tidak tahu, model perbuatan seperti apa yang dilakukan Kim Tang di siang itu. Apakah seperti yang pertama, aku tidak tahu.

Usai menjalani ritual transaksi yang dirancang ibu, kami pulang. Setibanya di rumah, aku menangis. Melihatku menangis, ibu marah-marah. Lagi-lagi dia membakar bajuku. Aku lantas dikurung di kamar setelah diberi uang Rp 500.

Dalam kesendirian di kamar, aku bertanya, “aku ini sebenarnya anak Mama atau anak tiri?” Jika aku anak kandungnya, mengapa ibu tega menjual diriku? Jika Mama adalah ibu tiriku, apakah iya, ibu tiri bisa sekejam seperti itu.

Petualangan ibu semakin menjadi-jadi. Suatu hari, aktivitas seks murah yang dilakukan Kim Tang bukan hanya denganku, tapi berempat; tiga perempuan, termasuk diriku. Aku mulai terpengaruh obat perangsang.***

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.