Catatan Gantyo

Belajar Jurnalistik (Katanya) Menyeramkan

2 56

SESEORANG belum lama ini menyapa saya via chatting di Facebook: “Pak Gantyo, apa kabar? Masih ingat? He, he…saya siswa SMAK Gading Serpong yang waktu itu ikut workshop Bapak…”

Dia melanjutkan: “Saya mau tanya nih…jenis-jenis pembuka untuk paragraf waktu itu apa ya agar menarik? Thanks before ya Pak…Gby.”

Sang pengirim adalah Vincent Wijaya. Seorang laki-laki berdasi, masih muda. Setidaknya itu kesimpulan saya setelah saya sekilas melihat foto profilnya.

Perlu waktu beberapa saat buat saya untuk mencerna pesan yang disampaikan, sebab kata-kata yang telah saya edit di atas, dia tulis dengan gaya anak muda, misal SMAK ditulis dengan huruf kecil, Gading Serpong ditulis hanya dengan huruf “gs”.

Belum sempat saya jawab, dia kembali mengirim pesan: “Pak…boleh tolong bantu like? :D” Vincent lalu mencantumkan link usaha Event Organizer-nya (EO) di Bandung.

Ah, saya baru ingat siapa Vincent. Dia adalah anak kreatif tapi super konyol, siswa SMA Kristen Penabur Gading Serpong yang pernah mengikuti pelatihan jurnalistik di sekolahnya tiga tahun lalu. Dalam pelatihan dua hari itu saya dipercaya oleh pimpinan sekolah di sana untuk menjadi “guru” dan mengajarkan ilmu jurnalistik kepada Vincent dan teman-temannya.

Saya lalu membalas pesannya seperti ini: “Sejak kapan kamu berusaha di bidang yang sekarang kamu tangani? Ya, saya ingat, Vincent yang ‘tukang ngaco’ di kelas itu, kan? Selamat, ya, sudah jadi orang sukses.”

Vincent lalu balik menjawab: “Hehehe…masih inget saja Pak.”

Saat saya memberikan pelatihan jurnalistik di sekolahnya, di kelas, Vincent tidak bisa diam dan kerap mengganggu teman-temannya dan otomatis mengganggu konsentrasi saya dalam mengajar. “Ini anak maunya apa sih,” kata saya dalam hati saat melihat gelagatnya seolah Vincent hendak berkata: “Sudahlah Pak Gantyo, ngapain Bapak bicara ilmu begituan. Saya nggak dengar, pulang saja sana!”

Sementara saya berpikir seperti itu, beberapa teman Vincent yang duduk di belakang sengaja tidur. Beruntung sebelum pelatihan dimulai, para guru mengingatkan saya agar memaklumi perilaku para siswa, terutama Vincent.

Begitu ingat siapa Vincent, dialog saya dengannya di Facebook saya lanjutkan. Di awal dialog, dia bertanya (saya kutip kembali): “Saya mau tanya nih…jenis-jenis pembuka untuk paragraf itu waktu itu apa ya agar menarik?”

Saya tahu maksudnya, dia pasti menanyakan jenis lead apa yang cocok dipakai untuk membuka sebuah tulisan atau berita. Saya jadi bertanya-tanya, apa urusannya Vincent bertanya seperti itu?

Rupanya dia sekarang kuliah di fakultas ilmu komunikasi Universitas Padjajaran Bandung dan akan mengambil konsentrasi atau jurusan jurnalistik.

Berdialog via jasa internet, Vincent rupanya ingin berkonsultasi dan minta pertimbangan seperti apa dunia jurnalistik. Dia bercerita (mengutip para mahasiswa senior) bahwa jurusan jurnalistik menyeramkan, karena banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan saat menyusun skripsi, sehingga rata-rata memerlukan waktu minimal tujuh tahun untuk bisa lulus.

Kekhawatirannya tentu saya bantah, sebab sukses tidaknya mahasiswa dalam menyelesaikan studi tergantung dari niat awal sang mahasiswa. Saya juga menjelaskan bahwa dunia jurnalistik sangat menyasyikkan. Selain bisa menjadi wartawan cetak dan elektronik, lulusan fakultas komunikasi-jurnalistik juga bisa menjadi diplomat, “dan pengusaha seperti kamu,” kata saya.

Darinya saya juga dapat informasi sejak masih di SMA, dia sudah bekerja di sebuah perusahaan EO di Jakarta. Vincent rupanya bertekad XLangkah Lebih Maju (maaf, meminjam tagline promosi operator telepon seluler XL), dia membuka usaha EO sendiri setelah kuliah di Bandung.

Usaha EO-nya itu diberi nama Papillon Event Organizer. Jasa yang dijual Vincent antara lain penyelenggaraan pesta ulang tahun, pembuatan buku tahunan untuk anak-anak SMA, dan event-event anak muda lainnya. Di akun Facebook-nya, Vincent juga mencantumkan nomor telepon seluler dan PIN BlackBerry-nya.

Ah, Vincent Wijaya si murid konyol itu benar-benar Xlangkah lebih maju. Dia belajar jurnalistik yang katanya seram dan berani mencoba menjadi pengusaha.(Gantyo Koespradono)

2 Comments
  1. fatan says

    Wah bruntung sekali saya menemukan blognya bapak ini, kalau boleh tahu apa sing langkah-langkah spesifik untuk menulis sebuah berita? saya ngeblog sih udah lama tapi ya itu pak nulisnya amburadul tanpa aturan yang jelas. ( mohon berikan referensi lainya, saya juga sudah membookmark blog bapak. )

  2. Terimakasih, ya, catatan saya ini telah Anda komentasri. Saya memberikan apresiasi kepada Anda yang mau ambil bagian berekspresi dengan menulis di blog meskipun kata Anda masih amburadul. Tak apalah, yang penting Anda sudah berani melakukan sesuatu.

    Menanggapi keinginan Anda, saya akan coba membuat berita dari apa yang telah Anda lakukan. Gampang, kok. Yang penting terus membaca dan mencoba (menulis).

    Ikuti saja terus apa yang saya tulis di blog ini. Terimakasih Anda telah mem-bookmark blog saya. Saya akan ngajari Anda bagaimana menulis berita.

Leave A Reply

Your email address will not be published.