Catatan Gantyo

Tuhan, Saya dan Burung Rajawali

3 62

TADI malam (Rabu, 30 November 2011) saat akan tidur, saya menangis. Eh, istri ikut-ikutan menangis. Kamis pagi awal Desember 2011 mata kami masih sembab. Sekitar pukul 07.00 saat saya dalam perjalanan menuju ke kampus, istri mengirim pesan melalui BlackBerry Messenger (BBM): “Ayah sudah sampai mana? Mama dan anak-anak sayang Ayah.”

Pesan itu saya baca setelah saya memarkirkan mobil di halaman kampus Universitas Esa Unggul. Pagi itu saya tugas mengajar di kampus yang terletak di sisi tol Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Semalam saya memang gelisah memikirkan sesuatu menyangkut hubungan saya dengan anak laki-laki saya yang telah menginjak dewasa, karena komunikasi saya dengannya tidak pernah nyambung, dan saya merasa terpojok dalam posisi serba salah, sehingga dia berhak untuk memarahi saya, meskipun saya adalah ayahnya.

Pesan istri di atas tentu dia maksudkan untuk menghibur saya. Saya terharu membacanya. Hiburan datang tepat pada waktunya. Beberapa detik kemudian masuk lagi ke BB saya, pesan dari grup Persekutuan Doa Media Indonesia yang membuat saya benar-benar terhibur. Isinya seperti ini:

Pernahkah…
Saat kau duduk santai dan menikmati harimu, tiba-tiba kamu terpikirkan ingin berbuat sesuatu kebaikan untuk seseorang?

Itu adalah TUHAN…yang sedang berbicara denganmu dan mengetuk hatimu.

Pernahkah…
Saat kau sedang sedih… kecewa… tetapi tidak ada orang di sekitarmu yang dapat kau jadikan tempat curahan hati?

Itulah saatnya di mana TUHAN…ingin agar kamu berbicara pada-NYA.

Pernahkah…
Kamu tanpa sengaja memikirkan seseorang yang sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba orang tersebut muncul atau kamu bertemu dengannya atau menerima telepon darinya?

Itu adalah kuasa Tuhan yang sedang menghiburmu. Tidak ada namanya kebetulan.

Pernahkah…
Kamu mengharapkan sesuatu yang tidak terduga yang selama ini kamu inginkan, tapi rasanya sulit untuk didapatkan?

Itu adalah Tuhan… yang mengetahui dan mendengar suara batinmu.

Pernahkah…
Kau berada dalam situasi yang buntu, semua terasa begitu sulit, begitu tidak menyenangkan, hambar, kosong, dan bahkan menakutkan?

Itu adalah saat di mana Tuhan mengizinkan kamu diuji, supaya kamu menyadari keberadaanNYA. Dia tahu kamu sudah mulai melupakanNYA dalam kesenangan.

Sering Tuhan mendemonstrasikan KASIH dan KUASANYA di dalam area di mana saat manusia merasa dirinya tak mampu.

Apakah kau pikir tulisan ini hanya iseng terkirim padamu?

TIDAK! Sekali lagi TIDAK ada yang kebetulan. Melalui aku, Tuhan sedang memikirkanmu.

Beberapa menit ini tenangkanlah dirimu. Rasakan kehadiranNYA. Dengarkan suaraNYA yang berkata:
“Jangan khawatir anakKU. AKU ada di sini bersamamu!”

Ketika aku melihat nama-nama penerima tulisan ini, aku bersyukur pada Tuhan karena aku bisa mengenal kamu.

Tersenyumlah. Bersukacitalah.

GOD KNOWS what is the BEST for you. Because He loves you more than you love yourself.

*******

Pesan di atas benar-benar bukan karena kebetulan. Datang di saat yang amat tepat di saat saya kerap melamun, bahkan di jalan raya saat saya sedang mengemudikan mobil. Saat menghadapi persoalan, beberapa kali saya terus melajukan mobil saya padahal saya harus berbelok, begitu pula saat harus berbelok, saya tetap melaju.

Pagi itu (Kamis 1 Desember 2011) Tuhan telah “berbicara” kepada saya. Benar, GOD knows what is the best for you. Because He loves you more than you love yourself. Ya, Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita, sebab dia selalu mencintai lebih dari cinta kita terhadap diri kita sendiri.

Saya akhirnya menyadari, segala sesuatu, yang buruk sekalipun, jika akhirnya membuat diri kita kuat, sesungguhnya yang buruk adalah baik.

Kita harus bisa tangguh seperti burung rajawali yang berjuang sendirian dan mengalami rasa sakit luar biasa sebelum menjadi rajawali yang benar-benar perkasa dan bisa terbang tinggi menembus awan dan badai.

Untuk Anda ketahui, di saat rajawali menua, dia sendirian mencari ke tempat yang sunyi untuk mendapatkan kekuatan baru agar bisa terbang tinggi. Dia mengasah kukunya ke batu karang dan merontokkan bulu-bulunya agar tercerabut dari tubuhnya guna mendapatkan bulu baru. Semua itu tentu menyakitkan. Tapi setelah melalui proses itu, sang rajawali punya semangat baru.

Saya akhirnya bisa mengucap syukur, sebab istri dan anak-anak membiarkan saya atau memberikan kesempatan kepada saya untuk berjuang sendirian, termasuk saat menyiapkan “warisan” buat mereka.

Malam itu saya menjelaskan kepada istri bahwa kelak jika saya telah tiada, warisan paling berharga yang akan saya tinggalkan adalah buku-buku yang saya tulis, tulisan saya yang saya simpan di laptop dan catatan yang saya tuangkan di blog ini, di samping beberapa lagu yang saya ciptakan dan telah menjadi RBT yang bisa diakses di sini.

Dua aktivitas itu saya lakukan sendirian. Bahkan ketika lagu-lagu saya telah menjadi RBT, saya juga mempromosikannya sendirian. Anak-anak praktis tidak pernah mendengarkan lagu yang dibuat bapaknya sendiri, apalagi membantu “menjualnya”. Juga terhadap buku-buku yang saya tulis.

Tidak! Salah besar jika saya minta dukungan, sebab Tuhan sepertinya menghendaki saya menjadi burung rajawali yang bisa terbang tinggi tanpa bantuan dan dukungan siapa pun.

Bagaimana dengan Anda?***

3 Comments
  1. Fanni Siawanda says

    good pak. menginspirasi banget saya juga mau jadi rajawali pak. Jbu

  2. Fanni Siawanda says

    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

  3. suarahati says

    semangat pak. Saya yakin semuanya akan indah pada waktunya. AMIN

Leave A Reply

Your email address will not be published.