Catatan Gantyo

Episode Pasar Gembrong: Mas Jokowi, Anda Membuat Blunder

0 2
PERTEMUAN politik capres PDIP-NasDem Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) di Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Selasa (13 Mei 2014) menuai reaksi pro dan kontra dari para pendukung dan relawan Jokowi yang selama ini dikenal militan.

Sebagian dari mereka menyesalkan langkah yang ditempuh Jokowi menggandeng Ical yang belakangan semakin kelimpungan mencari teman koalisi. Sepekan  sebelumnya Ical bertemu dengan capres Gerindra Prabowo guna menjajaki kemungkinan berpasangan. Namun, keduanya terbentur pada kepentingan siapa yang pantas jadi nomor satu: “kamu atau daku?”


Situasi politik, khususnya pencapresan dan dukung mendukung, berubah demikian cepat. Tiga partai Islam yang bingung mencari naungan segera merapat ke Gerindra, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). 

Kongsi empat partai ini telah memenuhi syarat bagi Prabowo untuk mengajukan diri sebagai capres. “Jadi ngapain kami kasak-kusuk lagi dengan Golkar?” Mungkin itu dalih kubu Gerindra untuk memutuskan hubungan dengan Golkar. Belakangan partai ini malah sudah membuka diri untuk “mengawinkan” Prabowo dengan Hatta Rajasa sebagai cawapresnya yang jauh-jauh hari telah dipelesetkan menjadi “Prahara” (Prabowo-Hatta Rajasa). 

Terpetik kabar, Hatta Rajasa akan mengundurkan diri sebagai menko ekonomi. Entah, siapa yang akan memberikan mahar untuk memuluskan “perkawinan” ini. Informasi yang berkembang, nilai mahar “perkawinan” itu mencapai Rp 7 triliun. Lumayan, bisa untuk membangun ratusan gedung sekolah gratis.

Masuknya PKB ke duet PDIP-NasDem tentu membuat galau Golkar yang sudah tahunan menyiapkan Ical sebagai capres, karena suara hasil pemilu legislatif telah habis terpakai, yaitu 67,43 persen, masing-masing kubu Gerindra (32,72 persen), dan kubu PDIP (34,71 persen). 

Praktis, suara yang tersisa tinggal  32,57 persen. Beberapa hari lalu, saya menulis status di Facebook seperti ini: “Jika memang PAN, PPP dan PKS bergabung ke Gerindra, maka Prabowo akan mendapatkan 32,72 persen suara. PDIP-Nasdem-PKB total 34,71 persen suara. Total suara yang telah terpakai 67,43 persen. Masih ada sisa suara 32,57 persen. Bantu dong Demokrat dan Golkar harus gimana nih?”

Rupanya Golkar galau dengan situasi seperti itu. Fakta yang ada, akhir pekan lalu Ketua Umum PDIP Megawati ke Bali. Entah kebetulan atau tidak, Ical juga terbang ke Bali. Sementara itu Selasa (13 Mei) siang, tokoh Golkar Akbar Tandjung bertemu Ketua Umum NasDem Surya Paloh di DPP Partai NasDem Jl RP Suroso (Gondangdia), Jakarta Pusat.

Menjelang petang tersiar kabar Golkar akan mendeklarasikan dukung Jokowi di Pasar Gembrong.Nama pasar tradisional ini pun mendadak sontak terkenal setelah Ical dan Jokowi bertemu di sana bukan untuk berbelanja, tapi untuk bergandengan tangan.

Di pasar itu, Ical didampingi orang pentingnya, yaitu bendahara Golkar Setya Novanto dan Sekjen Golkar Idrus Marham. Siapa pun bisa menebak, ini bukan peristiwa biasa. Bahwa dari Pasar Gembrong akan muncul aksi bohong, itu soal lain. Ternyata, pertemuan Ical-Jokowi di pasar itu bukan pendeklarasian Golkar berkoalisi atau menjalin kerja sama kebangsaan dengan PDIP-NasDem dan PKB, tapi sekadar pertemuan “nyaris” berkoalisi.

Jika tidak ada perubahan, Rabu (14 Mei) siang ini, deklarasi kerja sama kebangsaan yang akan digelar di markas PDIP Perjuangan Lenteng Agung Jakarta Selatan hanya melibatkan tiga partai: PDIP-NasDem-PKB. Namun di mata sebagian pendukung Jokowi, peristiwa Pasar Gembrong itu mengisyaratkan bahwa Golkar dipastikan akan bergabung ke PDIP.

Itulah yang memicu para pendukungnya kecewa.  “Mas Jokowi, Anda membuat BLUNDER BESAR dengan insiden Pasar Gembrong jam 18.00 tadi. Bagaimana mungkin Anda berkoalisi dengan ARB dan Golkar untuk Indonesia Baru? Anda harus menjelaskan, karena semua pendukung Anda kini resah dan protes, pendukung Anda guncang,” tulis Christovita Wiloto dalam statusnya di Facebook.

Christovita selama ini dikenal sebagai pendukung berat Jokowi untuk Indonesia Baru. Ia  menjadi relawan sosial media untuk Jokowi sejak mantan walikota Solo ini dicalonkan menjadi gubernur DKI Jakarta. Melalui sosial media dan milis, setiap Selasa, Christov selalu mengingatkan para pendukung Jokowi agar mengenakan baju kotak-kotak khas Jokowi.

Statusnya di Facebook mengundang reaksi dari kawan-kawannya. Ada yang menulis, apa pun yang terjadi, “saya akan tetap pilih Jokowi.” Ada pula yang menganalis, cepat atau lambat, nantinya  Golkar tetap akan merapat ke PDIP-NasDem-PKB jika ada pilpres putaran kedua.

Tentu banyak tafsir mengapa Golkar mengisyaratkan akan berkongsi ke PDIP sebelum putaran kedua pilpres terjadi. Satu di antaranya, Golkar akan mencari aman. Mereka yakin Jokowi akan menang dalam pilpres 9 Juli nanti, daripada repot berlaga – dan pastinya mengeluarkan dana yang tidak sedikit – ya lebih baik bergabung saja ke kubu yang sudah pasti menang.

Apakah  perkiraan itu pasti akan datang? Belum tentu, sebab kubu Prabowo pastinya juga akan pasang kuda-kuda. Banyak pihak menduga Golkar pasti punya motif politik di balik niatnya mendukung Jokowi. Christovita mengingatkan: “Mas Jokowi harus hati-hati dengan  settingan Golkar, mereka lihai.”

Dalam situasi seperti ini, orang bisa saja bersuuzon, Golkar diskenariokan agar segera merapat ke PDIP untuk mengunci militansi para pendukung Jokowi tidak semakin menjadi-jadi. Atau dalam rangka mengalihkan suara pro Jokowi ke pro Prabowo. 

Orang pun berandai-andai, Golkar masih menyimpan “dosa” masa lalu dan sang ketua umum juga belum membereskan kasus lumpur Lapindo. Sangat mungkin Partai Demokrat yang sampai sekarang belum punya mitra koalisi pada detik-detik terakhir bisa saja merapat dan berlabuh ke PDIP.

Jika Golkar dan Demokrat merapat ke PDIP, maka langkah Jusuf Kalla untuk mendampingi Jokowi sebagai cawapres semakin mudah.

Namun, jika alasan-alasan itu yang diambil, majalah Tempo dalam editorialnya mengingatkan agar PDIP dan utamanya Jokowi hati-hati. 

“Jika ia (Jusuf Kalla) yang didapuk, tampaklah bahwa PDIP memilih mendahulukan persoalan elektabilitas ketimbang efektivitas pemerintahan yang kelak terbentuk,” begitu opini Tempo.

Seperti apa prospek PDIP dan Jokowi? Kita tunggu episode berikutnya? Ibarat sepakbola, permainan dan pengaturan strategi belum usai. Apa pun strategi dan hasilnya, tetap akan membuat senang dan kecewa penonton, apalagi pendukung.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published.