TATKALA CALON ENTREPRENEUR BERKOPI-DARAT

PERRY Tristianto Tedja. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Gara-gara bisnis yang dikembangkan, sejumlah ruas jalan di Kota Bandung macet total, karena usaha factory outlet (FO) yang dirintisnya bertebaran di pelosok ibukota Jawa Barat itu.

“Saya tidak punya cukup modal untuk buka toko (FO) di mal. Terdorong untuk menciptakan pasar baru, ya buka usaha di permukiman. Kalaupun kemudian gara-gara FO, jalan-jalan di Bandung macet, itu bukti saya berhasil menciptakan pasar. Saya bangga,” katanya di depan puluhan anggota milis Indonesia Young Entrepreneur (IYE) di Jakarta, Jumat (7 Desember 2007).

IYE menggelar acara kopi darat untuk para anggotanya — diisi dengan berbagai diskusi untuk mencerahkan para anggotanya dalam memulai dan mengembangkan bisnis – seperti itu sudah untuk yang keempat kalinya. Demi pengembangan diri untuk menjadi sosok entrepreneur yang tangguh, beberapa anggota milis IYE dari Surabaya dan Semarang menyempatkan hadir pada acara yang berlangsung sejak pukul 09.00-15.30 tersebut.

Selain Perry, panitia juga mengundang nara sumber lain, yaitu Bambang S Pujantiyo, konsultan teknologi tepat guna di BBPT dan Nugget F. Gunawi, konsultan bisnis. Keduanya juga aktif di milis IYE. Menurut catatan panitia, 31 anggota IYE hadir dalam acara tersebut. Angka 31 adalah yang mengisi daftar hadir. “Yang tidak mengisi daftar hadir juga lumayan banyak,” kata Suryo, salah seorang moderator milis IYE. Sampai awal Desember 2007, menurut Nico Budianto, moderator IYE yang lain, jumlah anggota milis IYE sudah tembus 2.000 orang. Persisnya, 2.007 anggota.

Kehadiran Perry Tristianto memberikan warna tersendiri bagi para anggota IYE. Pasalnya, di acara itu, pengusaha FO tersebut – dia juga mengembangkan bisnisnya ke dunia kuliner dan wisata – membeberkan kiat sukses dan lika-likunya memulai menjadi seorang entrepreneur.

Jangan berpikir panjang; jika ada peluang, raihlah sekarang; kalaupun gagal anggap itu sebagai proses belajar. Setidaknya itulah ‘benang merah” pendapat yang diungkapkan Perry yang penampilannya amat bersahaja itu.

Memulai bisnis FO yang dirintis sejak 1988, Perry kini mempekerjakan sedikitnya 1.200 karyawan, 800 di antaranya karyawan tetap. “Saya suka entrepreneurship, sebab saya senang belajar,” kata pemilik Rumah Strawberry itu.

Sebelum menggeluti bisnisnya sekarang, Perry bekerja di sebuah perusahaan rekaman dengan posisi sebagai presiden direktur. Ketika sedang jaya-jayanya, perusahaannya bangkrut. Pada saat itu dia sempat bingung, mau kerja di mana dan sebagai apa? Di tengah kebuntuannya, dia punya ide memproduksi kaos dengan model ala anak-anak muda.

Persoalannya kemudian bagaimana memasarkannya? Dia lantas menghubungi kenalannya yang memiliki toko-toko kaset. Lewat toko kaset inilah, kaos-kaos bikinannya dititipkan. Ternyata laku, padahal modalnya tidak seberapa; yang penting konsumen puas.

Bangun jaringan

Dari pengalaman itu, dia kemudian menyimpulkan bahwa membangun jaringan sangat penting. “Karena itu jika ingin sukses dalam berwirausaha, bangunlah jaringan. Cari network. Seringlah main ke luar rumah untuk mencari kawan. Hampir setiap hari, saya sharing ke kampus-kampus. Ini saya lakukan juga untuk membangun jaringan. Oleh sebab itu saya senang diundang IYE, di samping lama tidak ke Jakarta, saya juga ingin mencari kawan sebanyak mungkin,” katanya.

Anda boleh percaya boleh pula tidak. Begitu mendapat jaringan dan usaha telah berdiri, menurut Perry, uang bukan lagi tujuan utama. Pekerjaan yang dijalani jadikan sebagai kesenangan. Dia mengistilahkan “job is enjoy.” Sekarang ini, katanya, saya bekerja bukan untuk mendapatkan uang, tapi untuk menghasilkan karya. Karya itu akhirnya menghasilkan uang.

Amati hal-hal kecil

Untuk memulai usaha, Perry mengatakan, mulailah dengan memperhatikan hal-hal kecil. Amatilah apa yang ada di sekitar kita. “Kalau sedang berada di restoran, saya sering berdiam berjam-jam untuk mengamati, mengapa kok pengunjungnya demikian banyak, apa rahasianya?” katanya.

Suatu ketika dia bertanya-tanya, mengapa rumah makan Cek Mar di Bandung dilangganani banyak orang, sehingga mereka rela harus antre. Restoran Cek Mar buka setiap hari mulai pukul 19.00 hingga pukul 04.00. “Saya amati untuk mengetahui apa yang istimewa dari Cek Mar,” katanya.

Apa hasil pengamatannya? Ternyata Cek Mar pintar dalam hal marketing dan melayani pengunjung. Pengunjung laki-laki disapa dengan si ganteng, sedangkan pengunjung perempuan selalu disapa dengan si cantik. “Siapa yang tidak senang dibilang ganteng meskipun faktanya tidak demikian,” katanya. Yang lebih membuat kagum Perry, Cek Mar pun melayani preman-preman dengan baik. Cek Mar memanggil preman-preman itu dengan sebutan “Pak Haji.”

Pelayanan ala Cek Mar diikutinya. FO miliknya tak mengenal hari libur, bahkan lebaran sekalipun tetap buka. Dengan kata lain, usaha yang kita jalankan harus berani tampil beda. Kalau FO lain mempekerjakan para pramuniaga yang berdandan seksi, tidak demikian dengan FO-nya. “Saya justru mempekerjakan perempuan berjilbab. Mengapa, karena mereka pasti sopan dan melayani pengunjung dengan baik. Di Bandung, hanya FO milik sayalah yang pramuniaganya berjilbab,” katanya.

Usaha Rumah Sosis dan Rumah Strawberry miliknya juga diawali dari sebuah pengamatan. Nama Strawberry diambil, karena pada saat itu ada sinetron bagus di televisi berjudul Strawberry yang dibintangi Rachel Mariam. Sedangkan Rumah Sosis didirikan hanya semata-mata ada tukang sosis yang memproduksi sosis yang rasanya berbeda dari yang lain.

Mulailah dari apa yang kita miliki

Untuk memulai usaha harus punya modal besar? Teori ini ditepis mentah-mentah oleh Perry. “Mulailah dari apa yang kita miliki. Mau buka toko, jangan berpikir harus punya ruko dulu. Kalau kita punya uang Rp 1 juta, ya mulailah dengan membuka usaha yang modalnya paling banyak Rp 500.000,” katanya.

Tidak punya uang, jangan menunggu uang atau modal/bantuan datang. “Mulailah sekarang. Kalaupun usaha kita merugi, jadikan hal itu sebagai pelajaran. Jangan menyerah. Saya sekarang punya 80 FO. Saya baru mendapatkan hasil setelah saya membuka toko yang ke-36,” katanya.

Warga Jakarta, pasti mengenal usaha sandwich bakar yang berlokasi di kawasan Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Buka pukul 17.00 hingga pukul 22.00, usaha milik Yohanes ini selalu disesaki pengunjung yang ingin sekadar melahap nikmatnya sandwich bakar.
Yohanes menuai sukses, padahal, menurut Perry, temannya itu dulu tidak punya apa-apa. Tidak lulus SMP, Yohanes minta nasihat kepada Perry, usaha apa yang cocok buatnya. Perry menyarankan agar jualan ronde di samping warung makan nasi uduk di Kebon Kacang.
Sedikit demi sedikit usaha Yohanes berkembang, dan kini dia boleh berbangga, sebab hampir setiap petang, jalan raya di depan rukonya di kawasan Kedoya macet total, sebab puluhan, bahkan ratusan kendaraan antre, karena penumpangnya ingin menikmati sandwich bakarnya. Yang menarik, nasi uduk Kebon Kacang juga buka cabang di samping rukonya sekarang.

Buat target pasar

Perry menjelaskan, sebelum memulai bisnis, seorang calon entrepreneur harus mengetahui target pasarnya siapa. Untuk ini kita harus jeli. Tentang bisnis yang dijalankan, Perry mengatakan, target produknya di setiap tempat tidak selalu sama. “Kita tidak mungkin menjual pakaian tank top di kompleks perumahan yang sebagian besar penghuninya ibu rumah tangga,” katanya memberikan contoh.

Menjawab pertanyaan anggota IYE soal kemitraan, Perry mengatakan, jangan berharap perusahaan-perusahaan besar akan membantu yang kecil. “Kalau ada yang mengatakan perusahaan besar siap menolong pengusaha kecil, itu bohong. Bagaimana mungkin petani akan bisa memasok ke pasar modern, jika pembayarannya tiga bulan kemudian dengan syarat macam-macam,” katanya.

Teknologi tepat guna

Membawakan topik “Teknologi Tepat Guna untuk Pengembangan Usaha”, Bambang Pujantiyo mengatakan, banyak calon entrepreneur dan juga pelaku usaha yang belum memanfaatkan teknologi tepat guna dalam upaya mengembangkan usahanya.

Siapa yang tidak kenal tempe? Selama ini kita mengenal tempe produk Indonesia sebagai tempe yang lazimnya dibungkus dengan daun, plastik, dan kadang-kadang dilapisi kertas koran. Pokoknya kemasannya sungguh tidak menarik.

Namun di Jepang, menurut Bambang, tempe di negeri ini sudah diproduksi dengan kemasan yang menggiurkan. Jepang kini sudah mampu memproduksi tempe yang bisa dipakai untuk melengkapi burger atau sandwich. “Bukan tidak mungkin satu dua tahun lagi kita akan akan tempe impor,” kata Bambang yang pernah sekolah dan buka warung makan di Jepang.

Siapa pula yang tidak mengenal Starbuck Coffee. Pada mulanya, kopi yang dijual toko atau kedai kopi bergengsi ini bermerek Kampung, karena kopi itu memang berasal dari kampong di Indonesia.

Siapa sangka, kopi merek Kampung itu setelah diolah oleh Starbuck sekarang telah mendunia di 13 negara dengan 12.000 kedai, dan melibatkan 135.000 pegawai. Diakui atau tidak, menurut Bambang, orang Indonesia memang kurang inovatif dalam soal-soal seperti itu.

Padahal, kata Bambang, sumber daya alam – juga peralatan teknologi untuk mendukung inovasi produk – sudah dikembangkan di Indonesia dan ada di BPPT, tempat di mana Bambang bertugas.

Bambang tidak menutup mata, memang banyak orang Indonesia yang kreatif dan berhasil menemukan teknologi tepat guna. Namun, katanya, temuan atau riset pribadi tidak akan pernah nyambung. Artinya, hasil penelitian itu tidak akan bisa digunakan secara masal. Ke depan, ujarnya, kaum akademisi, bisnisman dan government (ABG) harus bersinergi. “Kita berharap IYE bisa menjembatani,” katanya.

Memberikan contoh, Bambang mengungkapkan, orang Indonesia juga telah berhasil mengembangkan kotoran sapi menjadi bioenergi. Telah pula ditemukan kompor yang berbahan bakar jerami. Menurut Bambang, BPPT akan mengembangkan bahan bakar jerami ini sebagai energi alternatif. “Kami sedang berupaya bagaimana supaya nyala api kompor jerami itu berwarna biru, tidak merah seperti sekarang,” katanya.

Semua itu, masih menurut Bambang, jelas merupakan peluang bagi siapa pun yang tertarik untuk berwiraswasta. “Kita kini sudah masuk pada era inovasi masal, bukan lagi era produksi masal,” ujarnya.

Akan halnya Nugget F. Gunawi. Dalam kesempatan tersebut, dia lebih banyak menjelaskan tentang strategi awal saat seseorang memulai bisnis. Agar usaha yang kita rintis bisa eksis, katanya, ada prasayarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon entrepreneur. Beberapa di antaranya adalah menyiapkan mental dan daya tahan; disiplin, mampu mengelola uang tunai, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Dalam kesempatan tersebut, Nugget juga mengungkapkan bagaimana mengantisipasi risiko bisnis. Beberapa cara yang perlu diambil adalah melakukan penelitian pasar, membuat perencanaan bisnis, dan memilih strategi bisnis yang tepat.

Bekal untuk para anggota IYE semakin komplit setelah konsultan hukum Novizal Kristianto – dia biasa dipanggil Bule – menjelaskan mengenai UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Meskipun UU tentang Perseroan Terbatas yang baru ini perubahannya tidak terlalu signifikan dengan UU sebelumnya, bagaimanapun hal ihwal tentang keberadaan UU itu tetap diperlukan bagi para anggota IYE. “Masa sih mau bikin usaha nggak punya perizinan,” kata Bule.

Seperti biasa, para anggota IYE memanfaatkan acara IYE Gathering itu untuk bertukar pengalaman, berkenalan dan menjalin silaturahmi bisnis. Siapa tahu, dari sini tergalang potensi yang daripadanya mampu menyembuhkan penyakit yang masih diidap bangsa ini. Salah satu penyakit itu adalah pengangguran.

Gantyo Koespradono

Comments (0)
Add Comment