LITE IS BEAUTIFUL: MENJADI MANUSIA BARU


WRITENOW (Jumat 5 Desember 2008): Ibarat mengendarai kendaraan bermotor yang pengemudinya selalu melihat kaca spion, banyak di antara kita yang mengarungi hidup ini dengan melihat terus ke belakang. Lha, kalau ini yang kita lakukan, kapan kita bisa berkonsentrasi menatap masa depan dan lalu menjalaninya?

Mengendarai mobil dan sesekali melihat spion memang perlu untuk kewaspadaan. Tapi kalau terlalu sering, bahkan selalu menatapnya jelas ada yang tidak beres dengan diri kita.

Begitu pula dalam kehidupan ini, banyak di antara kita yang selalu melihat ke belakang, dan menyimpan paradigma jika dulu kita pernah gagal, maka apa yang akan kita jalani ke depan pasti gagal. “Masa lalu tanpa kita sadari sering mengikat kita,” kata motivator Arvan Pradiansyah dalam talk show Lite is Beautiful di Radio Lite FM Jakarta, Jumat (5 November).

Menurut Arvan Pradiansyah, ikatan masa lalu itu semakin kuat jika kita pernah mengalami pengalaman buruk atau gagal. “Ikatan-ikatan seperti inilah yang sering menghantui dan menghancurkan masa depan kita.”

Dihadapkan pada kenyataan itu, banyak orang yang kemudian memberikan label pada dirinya sendiri bahwa “saya orang gagal.” Mereka menganggap dirinya sebagai manusia kalah.

Stigma sebagai manusia gagal dan kalah itu biasanya semakin menjadi-jadi jika orang lain sering menghancurkannya karena menganggapnya sebagai manusia kemarin. “Memangnya kamu siapa. Dulu kamu siapa” adalah kata-kata yang sering dijadikan sebagai “pelengkap penderita” bagi manusia-manusia pesimis yang selalu melihat ke belakang.

Kita harus pandai-pandai mengelola masa lalu kita, sebab masa lalu bisa berdampak positif dan negatif. Dia bisa membuat hidup kita lebih baik atau sebaliknya.

Menurut Arvan Pradiansyah, ada empat tipe manusia berkaitan dengan masa lalu ini:

1. Manusia yang punya masa lalu negatif dan menghantuinya hingga sekarang. Mereka selalu berpikir gagal, gagal dan gagal. Dengan kata lain masa sekarang pun dianggapnya sebagai negatif. Ketika dia berpikir negatif, maka negatif pula yang akan menimpanya.

2. Manusia yang memandang masa lalu positif dan masa sekarang sebagai negatif. Contohnya adalah pejabat yang power syndrom. Ciri khasnya, dia selalu mengatakan, “dulu ketika saya menjabat situasi tidak seburuk sekarang” atau “dulu lebih baik dari sekarang.” Ingat, kalau Anda sering berkata seperti ini, sebenarnya di masa sekarang Anda tidak pernah berbuat apa-apa, karena kondisi dulu lebih baik daripada sekarang. Tantangannya, kapan Anda berbuat lebih daripada apa yang Anda katakan di saat ini. Dulu adalah masa yang telah lewat dan tidak pantas Anda banggakan lagi.

3. Manusia yang memandang masa lalu negatif menjadi positif. Contohnya adalah manusia yang pada masa lalunya merasa “kalah” dan kekalahannya itu dijadikan pemicu untuk meraih kemenangan. Kekalahannya dijadikan amunisi untuk berperang menghadapi “musuh” yang ada di depan.

4. Manusia yang menganggap masa lalu positif menjadi semakin positif. Contohnya adalah manusia yang selalu optimistis karena dia selalu berpikir positif.

Persoalannya, banyak di antara kita yang sering memandang masa lalu kita yang suram atau hitam sebagai sebuah lorong gelap yang tak berujung. Arvan Pradiansyah mengingatkan, masa lalu kita yang gelap dan akhirnya membelenggu kita di masa sekarang jika di masa lalu kita berbuat jahat dan kejahatan itu harus kita pertanggungjawabkan di depan.

Karena itu selama kita tidak pernah berbuat jahat di masa lalu, jangan takut masa depan kita akan gelap dan membelenggu kita. Ke depan, kita harus bisa menjadi manusia baru. Percayalah, kata Arvan Pradiansyah, Tuhan yang Maha Penyayang sampai kapan pun tidak pernah melakukan hal-hal yang buruk kepada kita.

Kalaulah ada peristiwa yang kita anggap buruk (padahal belum tentu demikian) dan terasa menyakitkan di masa lalu, percayalah itu merupakan “grand design” dari Tuhan yang menghendaki kita bisa menjadi manusia baru yang lebih baik di masa depan.

Tuhan setiap hari tidak pernah memberikan buku kepada kita, tapi memberikan sehelai kertas putih yang harus kita isi setiap hari. Jadi, bersyukur dan optimislah setiap saat, Tuhan siap membentuk kita menjadi manusia baru.***

Gantyo Koespradono

Comments (1)
Add Comment
  • Anonim

    Pak Gantyo,
    Dengan dicantumkannya Lagu Ciptaan Gantyo, blog anda kalau diakses menjadi lambat.

    Edhy Wahyu
    http://edhywahyu.net