Mahasiswa Menulis Berita, Ah, Ada yang Lebay

SETELAH cuti selama satu semester, Senin (10 September 2012), saya kembali  mengajar di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) . Salah satu matakuliah yang saya ajarkan kepada mahasiswa adalah penulisan berita.

Untuk mengetahui sampai sejauh mana wawasan atau pengetahuan mahasiswa yang saya dampingi dalam menulis berita, saya minta mereka menulis berita tentang perkuliahan hari itu. Tidak panjang, cuma satu paragraf alias lead/teras berita atau inti beritanya saja.

Ohoi, seorang mahasiswa menulis seperti ini (saya kutip sesuai dengan aslinya): “Ruang kelas itu tampak tenang. Seorang pria berkemeja putih duduk di hadapan para mahasiswa. Ia terlihat tenang menjelaskan tentang diri dan pengalamannya sebagai wartawan. Tiba-tiba ia berdiri dan bertanya kepada mahasiswa, “Siapakah yang tidak memiliki email? Facebook? Atau blog?” Sontak beberapa mahasiswa tampak tersenyum simpul, tidak ada yang menjawab. “Hampir tidak ada ya?” lanjutnya. Ia pun mulai menorehkan spidolnya ke whiteboard. “Gantyo.blogspot.com” adalah blog pribadi milik pria itu, Gantyo Koespradono, seorang dosen matakuliah Penulisan Berita, Yayasan Kampus IISIP-Jakarta.”

Sang mahasiswa bukan menulis berita, tapi feature (karangan khas), dan di sini ada kata-kata yang satu dengan lainnya tidak logis. Perhatikan kalimat “Sontak beberapa mahasiswa tampak tersenyum simpul.” Lalu, mahasiswa yang tidak “tampak” seperti apa, ya?

Lihat pula kalimat: “Ia pun mulai menorehkan spidolnya ke whiteboard.” Apa yang ditorehkan? Spidol atau tulisan (kata-kata)? Kalimat lain: ”…Gantyo Koespradono, seorang dosen mata kuliah ….” Perlukah kata ”seorang” ditempatkan di sana?

Tak apalah. Saya maklum, para mahasiswa yang saya dampingi hari itu belum mengenal hal ihwal menulis berita. Maka, wajar jika yang lain pun menulis berita begitu polos, fakta dan opini bercampur aduk, logika dilanggar, dan terlalu sopan (menggunakan kata ”beliau” sebagai kata ganti orang ketiga), tidak tahu apa yang penting dan apa yang menarik; tidak tahu kata pertama apa yang digunakan untuk membuka kalimat lead.

Coba perhatikan kalimat berita berikut ini (lagi-lagi saya kutip sebagaimana adanya): ”Dalam kuliah Pertama Penulisan berita masih banyak yang terlambat. Untuk minggu pertama seharusnya mahasiswa tidak terlambat.”

Mahasiswa yang menulis berita di atas tidak mengetahui kapan harus menggunakan huruf besar dan kecil (Pertama Penulisan berita). Kesalahan-kesalahan seperti ini sering saya temukan pada karya mahasiswa di perguruan tinggi lain. Selain di IISIP, saya juga mengajar di Universitas Esa Unggul.

Kalimat berita di atas juga tidak jelas siapa yang dimaksud dengan ”banyak yang terlambat.”  Dosenkah, mahasiswakah, atau siapa?   

Mungkin mahasiswa penulis berita tersebut berniat menulis seperti ini: ”Banyak mahasiswa terlambat masuk kelas ketika kuliah penulisan berita sedang berlangsung di kampus IISIP Jakarta, Senin (10 September).”

Halo para mahasiswa dan siapa pun yang kebetulan membaca catatan ini, menulislah dengan bahasa yang sederhana. Jangan berpikir berbelit-belit. Gunakanlah kata kunci yang sudah pasti, berpedoman kepada who (siapa), what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).

Mahasiswa lain menulis seperti ini: ”Di hari pertama kuliah kelas Penulisan Berita dipenuhi oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah Penulisan Berita. Masih terdapat juga mahasiswa/i yang terlambat masuk kelas. Gantyo K merupakan dosen Penulisan Berita pada kuliah Penulisan Berita.”

Waduh, mahasiswa yang satu ini mengalami ”inflasi” kata ”Penulisan Berita”. Coba perhatikan berapa banyak kata ”Penulisan Berita” pada kalimat yang dia tulis. Saya maklum, sebab dia belum mengenal ekonomi kata sebagaimana disyaratkan dalam menulis berita.

Dia tidak sendirian, sebab rekannya juga menulis seperti ini: ”Hari ini (10/9) diadakan kuliah Penulisan Berita di IISIP Jakarta. Kuliah ini diadakan di lantai 3, tepatnya di ruang 3B5. Gantyo Koespradono adalah dosen yang mengajar 65 mahasiswa yang mengikti kelas ini. Kuiah ini diadakan selama 3 SKS….”

Kasus lain yang kerap saya temukan adalah banyak mahasiswa yang melanggar logika saat menulis berita, seperti ini: ”Pada hari Senin, 10 September 2012 sudah dimulai perkuliahan semester ganjil di kampus IISIP Jakarta. Dikelas penulisan berita Di ruang 3B5 di ajar oleh dosen Gantyo Koespradono. Dikelas  mahasiswanya berkisaran sekitar 50 s/d 60 orang, yang 65%nya mahasiswa angkatan 2011 dan 35%nya campuran angkatan 2009 & 2010.”

Coba perhatikan, membaca kalimat di atas, siapa yang saya ajar? Jawabnya adalah ”Di kelas penulisan berita.” Dalam kalimat itu, mahasiswa juga menulis: ”Di ruang 3B5 di ajar oleh dosen ....” He… he … he, berarti ”Di ruang 3B5” dong yang saya ajar. Saya tahu, maksud sang mahasiswa adalah seperti ini: “Dosen Gantyo Koespradono mengajar mahasiswa di ruang 3B5.”

Mahasiswa di atas juga lupa dengan pelajaran bahasa Indonesia sewaktu di SD, SMP dan SMA bagaimana menuliskan “di” untuk menjelaskan kata kerja, dan keterangan tempat.

Hingga kini banyak mahasiswa – juga anak-anak muda – yang selalu menulis terbalik-balik, “di” yang seharusnya digabung malah dipisah dan yang seharusnya dipisah, malah digabung.

juga mahasiswa yang menulis kalimat, namun belum selesai, seperti ini: “Kuliah pertama yang dilaksanakan Kampus Tercinta Jakarta, Senin (10/9). Matakuliah penulisan berita dilaksanakan pukul 08.00 di ruangan 3B5…..”

Kalimat pertama yang ditulis mahasiswa di atas, jelas belum selesai. Selain belum selesai, kalimat tadi juga melanggar logika. Perhatikan kalimat kedua. Apa yang dilaksanakan pukul 08.00 di ruangan 3B5? Matakuliah atau kuliah?  Berbeda, lho!?

Hehehe….., ada juga mahasiswa yang lebay, menulis berita tentang perkuliahan pagi itu layaknya menulis berita kecelakaan atau bencana alam. Dia menulis seperti ini: “Kegiatan perkuliahan yang terjadi di IISIP pada jam pertama berlangsung dengan cukup lancar itu terbukti dengan tersampaikannya beberapa materi perkuliahan yang disampaikan Gantyo Koespradono beliau adalah dosen yang mengajarkan mata kuliah penulisan berita.”

Lebay yang saya maksud adalah di ada kata-kata “perkuliahan yang terjadi …”

Oh, ya, hampir lupa. Ada mahasiswa yang menulis berita layaknya Pak RT berpidato, karena banyak mencantumkan kata “dimana” atau “yang mana”, seperti ini: “Mata kuliah pertama hari ini, Senin 10 September 2012 adalah penulisan berita di mana Gantyo Koespradono berperan sebagai pemberi materi di mata kuliah ini. Suasana belajar cukup tenang meskipun agak terganggu dengan adanya beberapa mahasiswa yang dating terlambat.”

Kebiasaan menulis kalimat ala pidato Pak RT (di mana, yang mana, bahwasanya, beliaunya, dan sebagainya) juga saya temukan ketika saya memberikan pelatihan jurnalistik kepada penggiat antikorupsi anggota Lembaga Clean Governance di Jakarta belum lama ini.  

Tak apalah salah. Mahasiswa dan pemula, belum punya pengalaman. Halo, para mahasiswa komunikasi (jurnalistik) di mana pun Anda berada. Beranilah berbuat salah, jangan takut salah. Jika Anda takut salah, Anda tidak akan berbuat apa-apa. Sebaliknya, jika Anda berani salah, maka Anda akan tahu di mana letak kesalahan yang telah Anda lakukan, karena Anda sudah berani berbuat sesuatu meskipun salah.

Membaca catatan di atas, para mahasiswa tentu bertanya, lalu kalimat berita yang benar itu seperti apa? Yuk, ikuti terus kuliah saya dan baca catatan-catatan  saya di blog ini. ***

Comments (1)
Add Comment
  • Sultan Kata Isnainsyah

    mantap pak. saran dan kritiknya sangat membangun. jadi semangat belajar sama bapak hahai.