Catatan Gantyo

SOLUSI KRISIS BBM, LISTRIK, PUPUK

0 37
MELONJAKNYA harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka US$100 per barel tidak urung membuat pemerintah bingung, sebab dana subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) masyarakat semakin tidak terkendali. Mencoba mencari jalan keluar, pemerintah berencana membatasi penggunaan premium yang kemudian menuai protes, karena pelaksanaannya di lapangan, pengguna mobil harus memiliki kartu pintar segala.

Belum lagi urusan pembatasan jatah premium selesai, muncul lagi kebijakan di bidang energi listrik yang juga membuat masyarakat merasa terganggu aktivitasnya, sebab PLN menggilir pemadaman listrik di Jawa dan Bali. PLN terpaksa menggilir pemadaman listrik lantaran pasokan energi untuk sejumlah pembangkit listriknya terus berkurang.

Di bidang pertanian, para petani pun sampai sekarang tidak tahu harus bersikap seperti apa saat jumlah panenan mereka terus menurun karena kelangkaan pupuk. Kalau pun pupuk tersedia, harganya terus melambung. Dihadapkan kepada masalah seperti ini, para petani cuma bisa gigit jari.

Banyak di antara kita yang lantas bertanya, kapankah berbagai krisis itu berakhir? Bilakah negara mengakhiri pemberian subsidi BBM namun harga BBM tidak terus melangit? Kapankah petani mandiri dalam mengolah sawah, karena pupuk tersedia di mana-mana dengan harga murah, namun tetap berkhasiat menyuburkan padi petani? Kapan pula masyarakat menikmati listrik secara leluasa dengan biaya murah?

Kalau pertanyaan ini diajukan kepada Adji Kusumo, maka dengan mudah, anak muda asal Yogyakarta itu menjawabnya, sebab dia ‘menguasai’ atau setidaknya mengetahui teknologi baru bagaimana memproduksi BBM, listrik dan pupuk murah. “BBM hasil temuan saya kalau dijual paling mahal Rp 1.500 per liter,” katanya belum lama ini.

Harga BBM-nya bisa ditekan serendah itu, sebab bahan bakunya bukan berasal dari galian tambang, melainkan dari plankton yang jumlahnya tak terbatas di lautan. Plankton inilah yang selama ini digunakan untuk bahan baku pembuatan minyak mentah.

Adji yang sarjana filsafat dari Universitas Gadjah Mada ini sudah banyak melakukan uji coba. BBM murahnya pernah pula diperkenalkan ke para anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta dan telah pula diujicobakan pada kendaraan bermotor (sepeda motor dan mobil).

BBM alternatif sebenarnya bukan barang baru, sebab di Sukabumi, Jawa Barat, telah pula dijual BBM alternatif (etanol) dengan bahan baku singkong. Namun etanol ala Sukabumi ini harganya lumayan mahal, Rp 8.000-Rp9.000 per liter.

Sedangkan harga BBM temuan Adji Kusumo benar-benar merakyat dan siap diproduksi secara massal, karena bahan bakunya melimpah, bahkan bisa dibudidayakan di darat. Menurut Adji, dalam satu hektare luasan pembudidayaan plankton bisa menghasilkan 140.000 liter BBM. “Semua ini adalah kekayaan bangsa, bukan kekayaan saya,” katanya.

Lalu soal pembangkit listrik, Adji menjelaskan, selama ini kita memproduksi energi (listrik) dengan energi. Ini jelas pemborosan. Adji mengatakan dia telah berhasil membuat energi listrik dengan memanfaatkan bahan baku oksigen. “Pokoknya bahan bakunya gratis pemberian Tuhan, sehingga nantinya masyarakat bisa menikmati listrik yang benar-benar murah,” katanya.

Dia mengakui, peralatan untuk membangkitkan listrik bikinannya belum sempurna betul, sebab hanya bisa bertahan delapan jam. Dia masih terus berusaha bagaimana bisa bertahan lama. Dia berharap jika temuan dan teknologi pembangkit listriknya berhasil, nantinya pelanggan listrik tidak perlu membayar listrik bersadarkan meteran. “Masyarakat cukup membayar abonemennya saja,” katanya.

Sampai sedemikian jauh, Adji masih merahasiakan temuan teknologinya itu. Dia pun keberatan saya berniat melihat dari dekat proses pembuatannya. Dia khawatir kalau temuannya dibuka secara transparan, nantinya ada pihak-pihak yang memanfaatkan dan memengaruhinya untuk menjadikan dirinya kaya sendirian. “Saya tidak mau kaya sendirian, sebab temuan ini akan saya berikan kepada bangsa, rakyat Indonesia,” katanya.

Demikian pula temuan pupuk organiknya yang selama ini telah digunakan sejumlah kelompok tani di Yogyakarta bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Formula pupuknya terbukti berhasil meningkatkan produksi padi dari biasanya 4 ton menjadi 10 ton per hektare. Pupuk temuannya juga bisa dimodifikasi untuk menggemukkan ternak (sapi dan ikan).

Adji sebenarnya masih keturunan keluarga keraton Yogyakarta. Namun dia mengaku tidak betah hidup sebagai bangsawan. Kelas satu SMA dia masuk pesantren dan menikmati jadi santri. Dia juga pernah menjadi kuli panggul di Pasar Beringharjo Yogyakarta untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi rakyat biasa.

Berbisnis makanan suplemen untuk otak, dia kini meraih sukses. Punya rumah mewah di Yogyakarta senilai miliaran rupiah. Luas ruang tamunya 10 X 15 meter. Dia sengaja merancang ruang tamunya seluas itu untuk menerima tamu. “Tamu harus saya muliakan,” katanya.

Siapa saja tamunya? Banyak, mulai dari tetangga, wartawan, politikus hingga tukang becak. Hampir setiap hari orang tidak mampu bertandang ke rumahnya hanya untuk makan. Setiap hari Adji memang membuka rumahnya 24 jam dan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk bertandang dan makan gratis. “Tapi apa yang saya sediakan, ya sesuai dengan kemampuan saya,” katanya.

Yang sekarang dipikirkan Adji adalah bagaimana seluruh anggota masyarakat dapat merasakan hasil temuannya, BBM murah, pupuk murah, listrik murah.

Banyak orang yang mengatakan Adji sebagai orang yang kurang waras. Baginya tudingan itu tidak menjadi masalah. Pasalnya, orang besar di dunia ini (seperti Einstein, Archimedes, Thomas Alva Edison, dan lain-lain) juga pernah dicap sebagai orang tidak waras, namun temuannya dimanfaatkan manusia hingga zaman kini.*

Gantyo Koespradono

Leave A Reply

Your email address will not be published.