Catatan Gantyo

AGAR KITA MENJADI PRIBADI YANG MENARIK

0 43
BANYAK orang merindukan dirinya menarik. Agar tampilan lebih menarik, banyak di antaranya yang kemudian memoles tubuh dan wajahnya dengan berbagai cara. Operasi plastik, melangsingkan tubuh dengan berdiet dan berolahraga adalah sebagian cara yang dilakukan banyak orang agar penampilannya menarik.

Keinginan tampil menarik bukan hanya dominasi perempuan. Banyak laki-laki yang kini doyan ke salon untuk creambath, facial dan fitness agar perutnya tidak semakin menggelembung. Tidak sedikit pula pria botak yang melakukan perawatan agar sang kepala tidak semakin botak dan berharap kulit kepalanya bertunas rambut baru.

Untuk semua itu, berapa ongkos yang harus dikeluarkan, sepertinya mereka tidak peduli, yang penting penampilan fisik semakin oke. Untuk semakin menyempurnakan penampilan, banyak di antaranya yang mengikuti berbagai kursus kepribadian, public speaking, dan sebagainya. Di tempat-tempat kursus semacam ini, mereka biasanya diajarkan bagaimana cara berjalan, duduk, tersenyum, berbicara dan sebagainya.

Berpenampilan menarik dengan melengkapi diri seperti itu memang penting, namun menurut konsultan SDM Arvan Pradiansyah, bukan jaminan 100% bahwa orang lain otomatis akan tertarik kepada kita. “Kalau kita ingin menjadi orang yang menarik, tertariklah Anda kepada orang lain,” katanya dalam acara Friday Spirit yang disiarkan Radio Ramako, Jakarta, Jumat (18 Januari 2008).

Persoalannya, bagaimana kita akan tertarik kepada seseorang atau lawan bicara kita, seandainya orang itu “dari sononya” tidak menarik? Siapa mau peduli? Arvan mengatakan, kita harus berani mengubah cara pandang kita tentang orang lain. Mustahil, seseorang tidak punya kelebihan, sehingga tidak ada yang memedulikan. “Kalau kita peduli dengannya, kita pasti akan menjadi perhatiannya,” katanya.

Setiap orang pasti punya keunikan dan kelebihan. Sayangnya, tidak banyak di antara kita yang bisa menemukan keunikan orang lain. Oleh sebab itu, masih menurut Arvan, jika kita bisa menemukan apa yang menarik dari orang lain dan kemudian kita memerhatikannya (tertarik), maka diri kita otomatis akan menjadi sosok yang menarik.

Lalu bagaimana agar kita tertarik dengan orang lain, termasuk kepada mereka yang “barangkali” menurut pandangan umum tidak memiliki kepribadian menarik? Arvan mengatakan, bersiaplah untuk selalu mendengar; sering-seringlah mendengar daripada berbicara. Mendengarlah dengan sepenuh hati, jangan mendengar sambil lalu.

Setelah itu bangunlah ketertarikan pada orang tersebut, carilah celah bahwa yang bersangkutan memiliki keunikan. Tuhan menciptakan manusia demikian sempurna dan bermanfaat buat orang lain. Oleh sebab itu, setiap orang siapa pun dia, menurut Arvan, sebenarnya merupakan guru bagi kita. “Jika kita bisa menemukan kelebihan-kelebihan itu dan karenanya kita menjadi tertarik, maka otomatis kita akan menjadi orang yang menarik,” katanya.

Bagaimana kita mengetahui bahwa diri kita telah menarik? “Jika kebetulan kita sedang bercakap-cakap dengan seseorang, dengarkan apa yang dia bicarakan. Lihat caranya berbicara. Kalau dia memiliki energi dan semangat yang tinggi dan banyak bicara kepada kita, maka dia telah tertarik kepada kita dan itu berarti diri kita telah menarik,” turur Arvan.

Agar diri kita lebih menarik, masih menurut Arvan, saat kita mendengar dan berbicara kepada orang lain, jangan kita fokus pada kekurangan, tapi berfokuslah pada kelebihan dan keunikannya. Hal seperti ini hendaknya juga diberlakukan saat kita berkomunikasi dengan anggota keluarga.

Sebagai sarana untuk berlatih agar diri kita menarik, Arvan menyarankan, sebaiknya kita menuliskan hal menarik dan unik dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Lihatlah hasilnya, ternyata kita dikelilingi oleh orang-orang yang sangat istimewa.*

Gantyo Koespradono

Leave A Reply

Your email address will not be published.