Catatan Gantyo

WRITENOW: DOYO ISKANDAR DAN SEMANGAT MEMBERI, MEKAR TANI JAYA

1 3

WRITENOW (Kamis 11 September 2008): Memegang teguh prinsip kemandirian dan semangat memberi, Doyo Mulyo Iskandar berhasil menjadikan para petani di Lembang, Jawa Barat, mandiri dan punya harga diri. Padahal selama ini para petani kerap dipinggirkan dan dijadikan objek. Uji coba puduk organik Ponti pun dilakukan.

Hari Rabu 10 September 2008, saya berkesempatan mengunjungi kebunnya di Lembang, Jawa Barat. Selain saya, ada pula rombongan dari Banten Market Place Forum (BMPF) yang akan menjalin kerja sama dengan kelompok taninya.

Saat menunggu berbuka puasa (ngabuburit), Doyo Iskandar, petani kelahiran tahun 1962 itu tengah merapikan ruang tamu tambahan rumahnya yang selama ini ia gunakan untuk memberikan pelatihan bagi para calon instruktur pertanian atau siapa pun yang serius ingin menjadi petani.

Ruang tamu yang baru selesai direnovasi itu kini berukuran 4 X 7 meter menyatu dengan teras rumah yang tetap dibiarkan utuh. Di depan teras, berdiri white board. Di ruangan inilah, Doyo Iskandar lewat Kelompok Usaha Tani Mekar Tani Jaya yang didirikannya tahun 1987 memintarkan para petani bagaimana bercocok tanam dengan benar.

Sebagian besar anggota kelompok tani yang dipimpinnya menanam sayur mayur, sebab komoditas inilah yang selama ini menyejahterakan anggota yang kini berjumlah 523 orang. Produk unggulan Kelompok Usaha Tani Mekar Tani Jaya, seperti paprika, strawbery dan tomat bit sudah punya pasar sendiri, yaitu supermarket-supermarket besar di Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Ada pula yang dikirim ke Surabaya, bahkan diekspor ke Singapura.

Namun karena jumlah permintaan begitu banyak, Doyo Iskandar mengakui kelompok taninya tidak mampu memenuhi pasar. Akhirnya, Doyo dan kawan-kawan lebih banyak memenuhi permintaan pasar yang lokasinya tidak jauh dari Lembang. “Biar lebih gampang dan hemat biaya transpornya,” kata Doyo Iskandar.

Mempunyai lahan 1,3 hektare yang ditanami berbagai sayuran — dia juga menggarap lahan lain dengan cara menyewa — sebenarnya sudah cukup bagi Doyo Iskandar untuk menjadi petani berdasi.

Tapi Doyo Iskandar mengaku tidak mau mengkhianati profesinya sebagai petani, mekskipun pendidikan formalnya bukan pertanian. Doyo Iskandar adalah sarjana lulusan dari Sekolah Tinggi Tekstil Bandung tahun 1986. Setahun setelah lulus dari perguruan tinggi itu, dia langsung membuat kelompok tani dan bertekad memandaikan petani.

Hitung-hitung Doyo Iskandar sudah menghabiskan uang pribadinya Rp250 juta untuk membuat tempat pelatihan. Yang datang ke Lembang untuk mendapatkan pelatihan bukan hanya para petani saja, tapi juga utusan-utusan dari berbagai perusahaan yang peduli dengan pertanian. Mereka dididik Doyo dan instruktur lain selama 10 hari. Para peserta didik sekaligus praktek di kebun, bagaimana menanam, mamanen, dan menyemai. “Kalau peserta sudah bisa menyemai dan ada hasilnya berarti sudah lulus,” katanya.

Doyo Iskandar mengatakan bahwa pihaknya terbuka kepada siapa saja yang serius ingin menekuni dunia pertanian. “Bahkan kalau ada yang ingin menjadi petani, namun tidak punya uang, saya siap mendidik mereka dan bertani di sini,” ujar Doyo.

Tidak banyak syarat yang diajukan Doyo Iskandar; yang penting mereka serius untuk menjadi petani. Karena itu, Doyo mengaku sering kecewa dengan dinas-dinas pertanian yang mengirimkan orang untuk dididik di pondoknya tanpa diseleksi lebih dulu. “Masak yang dikirim ke sini tukang ojek. Begitu selesai ikut pelatihan, mereka tidak bertani tapi kembali menjadi tukang ojek. Lha, kalau cara seperti ini yang dipakai pemerintah, bagaimana dunia pertanian kita bisa maju,” katanya.

Oleh sebab itu, Doyo Iskandar mengaku lebih senang berhubungan dengan pihak swasta daripada dengan pemerintah, termasuk dalam hal temuan-temuan baru di bidang perpukukan atau pembibitan. Di sebagian lahannya, Doyo sekarang juga sedang melakukan uji coba pupuk organik Ponti yang terbukti berhasil menyuburkan lahan dan tanaman.

Ponti, disebut Doyo Iskandar, sangat efektif untuk meningkatkan hasil produksi. Dengan menggunakan Ponti, pohon tomat atau cabai memiliki banyak anakan, sehingga tanaman menjadi rimbun, karena setiap anakan baru mampu menghasilkan buah.

Sampai saat ini ada 32 jenis sayuran yang ditanam para anggota Kelompok Usaha Tani Mekar Tani Jaya. Azan berbuka puasa telah berkumandang. Ngabuburit telah berakhir. Wow, Doyo Iskandar pun menyantap jagung manis mentah dari kebunnya sebagai pembuka puasa. Sedap.

Gantyo Koespradono

Belajar seperti Doyo dalam Wujud
yang Berbeda

Doyo Iskandar sukses setelah menjadi petani dan kini punya semangat untuk berbagi atau memberi.
Setiap hari dia memanen hasil kebunnya. Anda pun bisa mendapatkan panenan dalam bentuk yang lain jika Anda punya semangat seperti Doyo.


1 Comment
  1. Anonim says

    jaya terus mekar tani jaya

Leave A Reply

Your email address will not be published.