Catatan Gantyo

WRITENOW: KRISIS dan BISNIS SANATULLAH

0 2
WRITENOW (Selasa 28 Oktober 2008): “Tuhan, berilah bangsa kami kekuatan, dan biarlah krisis global ini cepat berlalu, bukan karena kami berdiam diri, tapi karena kami berbuat sesuatu.”

Itulah kalimat doa yang selalu saya panjatkan setelah mengamati perkembangan dampak krisis global yang kini mengimbas ke mana-mana, termasuk Indonesia.

Para netter dari berbagai milis sejak sepekan terakhir terus memberikan informasi dampak krisis supaya kita waspada. Pasalnya, nilai rupiah terus menurun.

Portal berita detikcom hari ini (Selasa 28 Oktober 2008) memberitakan, selama satu setengah jam perdagangan valas sejak pukul 08.00 WIB, rupiah bergerak makin tak karuan. Mata uang lokal kian kelelep di level Rp 11.500 per dolar AS.

Data CNBC, pada perdagangan valas pukul 09.30 WIB, Selasa (28 Oktober 2008) rupiah anjlok 751 poin ke posisi Rp 11.500 per dolar AS. Sementara pada pukul 10.45 WIB, rupiah telah turun 951 poin ke posisi 11.700 per dolar AS.

Banyak dealer yang memerkirakan rupiah rentan menuju ke level 12.000 per dolar AS. Bahkan sejumlah pihak membandingkan rupiah dengan mata uang Korea yang sudah melemah 45%. Rupiah sendiri sudah melemah 22% dibanding posisi akhir tahun 2007 yang ada di level 9.390 per dolar AS. Sekadar perbandingan, saat krisis ekonomi melanda Indonesia 10 tahun yang lalu, nilai rupiah Rp 15.000 atas dolar.

Christovita Wiloto, praktisi PR (pada saat krisis, dia pernah berkutat di BPPN) mengirimkan informasi seperti ini: “Sore tadi saya sempat ngobrol dengan para bapak. Cerita tentang krisis yang sudah mulai terasa di Jakarta.

Ada yang cerita kalau perusahaan tempatnya bekerja rugi sekian miliar. Ada yang cerita kalau perusahaan tempatnya bekerja langsung kepukul leasing. Ada yang cerita kalau perusahaan tempatnya bekerja siap-siap kalau peti-peti kemas China yang menuju AS dan Eropa berputar arah ke Indonesia dan siap mendobrak pabrik-pabrik kita.

Ada yang cerita bahwa kasus Indover menjadi perhatian perusahaannya dengan waswas. Ada yang cerita kalau anaknya yang mau berangkat internship ke Jerman mendadak harus ditunda, karena company-nya mengurangi pegawai.

Ada yang cerita kalau rekan-rekannya yang kerja di perusahaan AS mulai menghitung pesangon. Ada yang mulai cemas, karena baru saja kirim anaknya sekolah ke luar negeri, “bagaimana dolarnya ya?” katanya sambil gigit bibir sendiri.

Ada yang cerita kalau perusahaan-perusahaan pelanggannya mulai seret bayar tagihan. Ada yang terlambat sudah sebulan. Ada yang cerita tentang beberapa proyek yang ditunda, bahkan batal.

Ada yang cemas kalau-kalau kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Ada yang cerita kalau counterpart-nya di China juga sudah mulai batuk-batuk. Ada yang cemas kalau-kalau dirinya di-PHK.

Aku menarik napas panjang. Udara basah habis hujan terasa memenuhi dada. Ada getir dan kelu terasa di aura pembicaraan tadi. Gelombang itu tiba juga. Itu bukan suatu yang tiba-tiba, namun biasanya baru terasa jika sudah menyengat kulit, mencubit ulu hati.

Ah, mal, mal masih saja penuh, masih saja ada yang ingin ganti BB-nya ke BBB. Ah… masih saja ada yang mau ganti N series-nya ke IPhone. Masih banyak yang belum merasa perlu…perlu memiliki sense of crisis.

Persis 10 tahun lalu ketika lampu kantor-kantor bank sudah padam sebelum pukul 19.00, maklum para direksi sudah pada pulang, karena mereka masih menikmati laju ekonomi 1997-an yang luar biasa nikmatnya. Mereka belum memiliki sense of crisis saat itu sampai tiba-tiba perusahaan tempatnya bekerja hilang!

Ah masa trauma 10 tahun lalu harus terulang lagi. Ah… masa kita sudah secepat itu lupa. Aku batalkan rencana memanggil taksi dan memutuskan jalan sebentar ke halte bus.

Rencana makan malam di mal aku batalkan. Di kulkas masih ada makanan, tinggal dipanaskan. Siap atau tidak siap kita harus siap. Seandainya krisis itu tidak jadi datang, karena perlindungan Tuhan, setidaknya kita sudah punya persiapan, karena apa pun kondisinya the show must go on, anak-anak harus makan dan sekolah. Siap atau tidak siap, kita harus siap. The show must go on.”

Bisnis Sanatullah

Lalu apa yang harus kita lakukan? “Kembalilah bisnis sunatullah,” kata Dahlan Iskan. Statement CEO Jawa Pos Group yang disampaikan dalam acara seminar bisnis PW Muhammadiyah Jatim itu pun disebarluaskan para netter di milis-milis.

Yang dimaksud Dahlan dengan bisnis sunatullah adalah bekerja dalam arti yang sebenarnya. Pengusaha harus kembali ke kantor, mengamati angka, bekerja, mengeluarkan keringat, dan mengerjakan sesuatu yang ada wujudnya.

“Jadi bukan hanya transaksi di atas kertas atau layar komputer,” kata Dahlan Iskan. Menurut dia, ada yang harus dikritisi dari krisis keuangan saat ini, yaitu transaksi derivatif yang kebablasan. Ini adalah penyebab krisis yang utama. Karena transaksi produk turunan tersebut tidak ditopang dengan underlying asset yang memadai.

Iming-iming keuntungan pada kontrak derivatif memang menggiurkan. Jika bisnis di sektor riil mampu mencetak laba 25 persen sudah sangat bagus, gain dari transaksi turunan produk keuangan itu rata-rata melampaui 30 persen.

“Coba, ada nggak yang menjalankan bisnis di sektor riil bisa menghasilkan laba di atas 25 persen?” tanya Dahlan kepada peserta seminar.

Seorang peserta, Sutrimo, mengacungkan jari. Dari atas panggung, Dahlan pun mendatangi pria asal Tulungagung yang duduk di bangku deretan belakang itu. “Apa usaha Anda?” tanya Dahlan.

“Kacang goreng. Labanya bisa mencapai 30 persen jika bahan baku murah seperti sekarang,” jawab Trimo.

Dahlan mengatakan ke depan hanya ada dua pilihan. Merelakan bisnis dikuasai oleh transaksi yang tidak riil. Atau kembali sektor riil dan mengatur transaksi derivatif. “Misalnya dibuat aturan jika selama ini suatu produk keuangan turunannya bisa sampai 13 tingkat, dikurangi sampai lima tingkat saja. Pasti tidak akan ada lagi orang yang serakah,” katanya.

Namun, kata dia, negara-negara kapitalis tidak akan setuju karena mereka telah terbiasa menikmati laba besar dan hidup mewah dari produk keuangan dan derivatifnya.

Pukulan buat Amerika

Saya hari ini juga mendapat milis yang intinya krisis global menjadi pembelajaran bagi Amerika dan negara lain pemuja perdagangan bebas dengan ideologi neoliberalismenya.

George Bush juga disebut-sebut telah terkena senjatanya sendiri yang menganggap sistem terbuka total dalam ekonomi perdagangan yang didukung oleh WTO adalah jalan menuju sorga. Dia juga “nyahok”, ternyata memerangi negara lain seenak perutnya sendiri juga ada balasannya. Mudah-mudahan penggantinya (Obama?) akan lebih manusiawi.

Tongkat pendulum kini telah berpindah arah. Sekarang China menjadi “jagoan”. Naga telah bangkit. Meski untuk itu, harus barjatuhan korban, termasuk negara kita. Berbahagialah orang yang eling lan waspada, tidak hanyut dan hilang dalam aliran zaman yang bernama globalisasi, perdagangan bebas, liberalisasi.***

Gantyo Koespradono

Leave A Reply

Your email address will not be published.