Catatan Gantyo

WRITENOW: ANDA BISA MENYELAMATKAN BANGSA INI

0 35

WRITENOW (Rabu 22 Oktober 2008): SIANG tadi seorang teman baru saja bertemu dengan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Suryadharma Ali dalam sebuah pertemuan eksklusif. Pertemuan ini dihadiri sejumlah pengusaha, seperti Ciputra dan orang penting dari Sinar Mas Group.

Pertemuan itu intinya membahas bagaimana kiprah UKM, sehingga para pelakunya bisa eksis ikut mengamankan ekonomi negeri ini. Faktanya, UKM jauh lebih tahan banting di saat krisis ketimbang perusahaan-perusahaat korporat.

Suryadharma Ali sengaja mengundang pengusaha besar dalam pertemuan itu tentu dengan harapan mereka mau membantu atau setidaknya bermitra dengan para pelaku UKM.

Baik Ciputra maupun wakil dari Sinar Mas Group menjelaskan bahwa mereka sebenarnya telah menjalin kemitraan, bahkan membantu UKM. Namun aktivitas positif ini tidak pernah diekspose oleh pers. Pers, menurut mereka, justru lebih senang memberitakan hal-hal buruk yang menimpa perusahaan-perusahaan besar tersebut.

Di saat krisis global menimpa dunia dan Indonesia juga terkena imbasnya, kita memang harus saling menopang. Dari mana memulainya? Ya, dari diri sendiri.

Sahabat milis hari ini memposting tulisan menarik bagaimana menyelamatkan bangsa. Tulisan yang katanya diambil dari milis tetangga itu diberi judul: “Let’s SAVE OUR NATION!” dan ditambahi dengan imbauan: “Ayo selamatkan bangsa kita. Mulailah dari diri Anda. Teruskan email ini ke teman-teman Anda sebanyak-banyaknya!”

Dalam tulisan itu disebutkan, ada langkah lain yang perlu kita lakukan untuk menyelamatkan bangsa kita, yaitu:

1. Yang mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito Anda. Jangan ambil uang Anda dari bank. Jika Anda ikut-ikutan mencairkan dana Anda, maka akan terjadi bank rush, dan krisis keuangan akan semakin parah.

2. Yang memiliki saham dan turunannya, jangan menjual saham dan derivasinya. Jika Anda ikut-ikutan menjual saham dan turunannya, maka harga saham akan semakin ambruk, dan krisis akan sungguh terjadi semakin parah.

3. Jangan ikut-ikutan memborong dolar. Jika Anda ikut-ikutan memborong dolar, maka harga dolar akan semakin tinggi dan rupiah semakin terpuruk. Harga barang impor akan semakin mahal, dan inflasi dalam negeri akan semakin menggila.

4. Jangan panik. Jika Anda tidak panik, maka krisis akan cepat berlalu. Perekonomian akan cepat pulih. Harga saham akan cepat rebound. Dolar akan cepat menyesuaikan diri pada kurs yang rasional.

Cadangan devisa kita cukup kuat. Jika Anda panik dan ikut-ikutan menarik deposito, menjual saham dan memborong dolar, maka Anda ikut memberikan kontribusi pada semakin dalamnya krisis di Indonesia .

Tetapi tentu ini merupakan pilihan bebas. Tidak ada yang dapat melarang Anda. Hati nurani yang bicara. Ini memang pilihan yang sulit bagi yang berduit, tetapi silakan Anda memilih.

Disebutkan bahwa krisis keuangan global kian menebar ancaman menjadi krisis ekonomi global yang tidak main-main, bursa saham guncang dan nilai tukar Rupiah semakin melemah, ini semua menjadi indikator bahwa akan ada bencana baru yang siap menerkam.

Para kaum kapitalis yang ingin meraup keuntungan dengan cara cepat dan menjadi serakah akhirnya menjadi sumber dari segala krisis yang kita belum tahu kapan akan berakhir.

Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan untuk ikut membantu agar krisis ini tidak menghancurkan sendi-sendi perekonomian bangsa ini?

Tentu kita tidak ingin ini menjadi periode 10 tahunan (1998-2008), mimpi kelam krisis ekonomi 10 tahun lewat tentu tidak ingin kita munculkan kembali. Tapi jika Anda tidak peduli, maka bisa saja hal ini akan terjadi.

Jika itu yang terjadi, maka bangsa ini akan semakin terpuruk, akan muncul PHK besar-besaran, sektor riil (UKM) tidak bergerak, sistem perbankan tidak dipercaya lagi dan akhirnya kita kembali ke NOL lagi.

Jika Anda masih mencintai bangsa ini, maka ada banyak hal yang bisa Anda lakukan, paling tidak mulailah dari diri Anda sendiri. Konkretnya, jika Anda seorang awam sebagaimana saya, maka yang bisa kita lakukan adalah:

1. Gunakanlah barang produksi dalam negeri. Langkah ini akan menyelamtakan sektor riil, usaha-usaha kecil akan berkembang, dan akhirnya kita bisa berdiri tegak.

2. Jangan sok mengonsumsi produk makanan luar negeri. Jika Anda senang makan durian, tidak perlu durian Bangkok Thailand, cukup durian lokal, toh tidak kalah rasanya. Jika senang makan jagung, tidak perlulah jagung Thailand, cukup jagung lokal. Tidak perlu makan-makan di outlet-outlet dengan brand luar negeri, toh ayam kampung kita tidak kalah nikmatnya.

Hal kecil ini kadang tidak kita sadari, tapi ketahuilah efeknya sangat luar biasa. Anda bisa bayangkan jika semua anak bangsa ini berpikiran sama, jika Anda konversikan dengan modal yang beputar, maka Anda akan kaget dan heran akan dampak yang sangat luar biasa. Percayalah, dengan cara kecil ini, krisis ini tidak akan terjadi di Indonesia.

3. Gunakan angkutan massal. Jika itu yang Anda lakukan, maka hal itu akan membantu untuk mengurangi konsumsi energi yang luar biasa yang sebetulnya tidak perlu, di samping mengurangi polusi. Kenyamanan mungkin belum kita pikirkan sekarang. Tapi percayalah bahwa aroma sesaknya penumpang di angkot dan bus-bus itu masih menimbulkan secercah harapan bahwa sektor riil kita masih bergerak.

4. Berbelanjalah di pasar-pasar tradisional, berdayakan warung-warung kaki lima. Percaya atau tidak, ekonomi kerakyatan terbukti mampu menyelamatkan perekonomian kita.

Jika Anda seorang pelaku bisnis, maka tolong jangan hanya memikirkan untuk meraup keuntungan pribadi semata-mata hanya dengan memikirkan impor barang-barang murah yang hanya akan menghancurkan produk dalam negeri. Jangan lari dari tanggung jawab dengan membawa lari modal ke luar negeri.

Lakukan hal-hal sederhana di atas, maka Anda akan lihat hasilnya. Dengan meneruskan pesan ini ke relasi atau sahabat Anda, berarti Anda sudah ikut menyelamatkan bangsa, karena Anda peduli.

Oleh sebab itu jika kebetulan Anda membaca tulisan ini, silakan copy- paste dan jadikan sebagai artikel di blog atau e-mail Anda. Perkara besar akan terjadi jika kita peduli dengan perkara kecil.***

Gantyo Koespradono

Leave A Reply

Your email address will not be published.