Catatan Gantyo

Natal, GKI Yasmin dan Surat Terbuka untuk Tuhan

5 71
MAAFKAN saya Tuhan, karena pada hari ini, Minggu 25 Desember 2011 saya telah lancang menulis surat kepada-Mu melalui blog dan saya sebarluaskan lewat Facebook.

Saya tidak tahu Tuhan, di sorga sana, apakah Engkau juga punya akun semacam itu. Tapi saya yakin, tanpa internet, Engkau pasti tahu apa yang akan saya sampaikan, bahkan pikiran saya yang belum sempat saya tuangkan melalui surat terbuka ini.

Saya percaya Engkau tidak berada di jauh sana, tapi berada di hati manusia. Ya, berada di hati kami, tanpa kecuali, termasuk saudara-saudara kami anggota Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor yang mengalami kesulitan untuk berjamaah menyembah-Mu dan saudara-saudara kami yang keberatan saudara-saudaranya bersukacita menggunakan bakal tempat ibadah di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat.

Saya senang Tuhan, Engkau menempatkan kami, tinggal dan berdiam di negeri yang bagi kami merupakan “sorga kecil” pemberian-Mu. Sorga kecil yang begitu indah nan memesona. Di sini kami hidup saling berbagi dan memahami. Kami memiliki saudara yang baik-baik, meskipun kami berbeda cara dalam menyembah-Mu.

Terimakasih Tuhan, Engkau beri rahmat tak terkira itu kepada kami. Hari ini, Minggu 25 Desember 2011, kami memperingati kelahiran Yesus Kristus yang populer dengan sebutan “Natal”. Saya beriman, Yesus adalah bagian dari “skenario” besar karya-Mu yang jujur saja saya tidak tahu awal dan akhirnya nanti seperti apa, sebab sepertinya Engkau sengaja membiarkan anak-anak-Mu di dunia ini memiliki tafsir sendiri-sendiri atas diri Yesus.

Kembali kepada keberadaan kami di Indonesia, hari ini kami senang, sebab saudara-saudara kami tanpa memandang cara kami menyembah-Mu saling memberikan ucapan selamat Natal lewat jabatan tangan, kirim pesan singkat (SMS) dan BBM (BlackBerry Messenger). Saudara-saudara kami begitu tulus mengucapkannya, dan hampir semuanya menyampaikan salam damai di bumi dan damai di hati.

Tapi Tuhan, sebagian kecil — ya sebagian kecil — di antara saudara-saudara kami di Bogor rupanya belum mampu memaknai kata damai, sehingga belum merelakan saudara-saudaranya yang berbeda iman merayakan Natal di tempat ibadah yang “disengketakan” oleh Bapak Walikota Bogor.

Tuhan, hari ini saya mendengar kabar sebagaimana disiarkan televisi dan situs-situs berita, bahwa anak-anak-Mu yang juga Engkau kasihi seperti Engkau mengasihi anak-anak-Mu yang lain tetap tidak diperkenankan mengadakan kebaktian Natal di “rumahnya” sendiri.

Tuhan, saya kutip sebagian informasi itu untuk saya sampaikan kepada-Mu, meskipun di atas sana, dengan tatapan mata-Mu, Engkau pasti melihat bagaimana anak-anak-Mu yang Engkau kasihi ada yang menangis dan ada yang marah — mungkin juga puas — karena berhasil menghalau saudara-saudaranya yang berniat mengadakan ibadah Minggu yang kebetulan jatuh pada hari Natal.

Tuhanku yang Mahabesar yang tidak pernah membeda-bedakan kami, inilah cuplikan informasi itu:

“Puluhan jemaat GKI Yasmin yang sebagian besar mengenakan kemeja putih sempat mencoba untuk beribadah di tepi jalan, tepat di pintu Kompleks Taman Yasmin. Namun pada saat jemaat akan berdoa begitu lilin Natal dinyalakan, warga atau massa yang tidak setuju keberadaan GKI Yasmin berteriak-teriak agar ibadah dibubarkan.”

“Sempat terjadi kericuhan dan adu mulut antara polisi dan warga yang menolak GKI Yasmin. Untuk menghindari bentrokan, ratusan aparat gabungan yang sudah bersiaga sejak pagi langsung membubarkan jemaat yang akan beribadah dan warga yang keberatan.”

Terimakasih, Tuhan, dalam situasi seperti itu, Engkau selalu menghadirkan “juru selamat”, seorang perempuan yang selama ini dianggap lemah bernama Lily Wahid, adik kandung mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid.

Lily hadir di antara jemaat GKI Yasmin yang hendak beribadah di GKI Yasmin yang berlokasi di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Saya tidak tahu Tuhan, apakah Engkau izinkan Lily pada hari Minggu (25 Desember 2011) pagi itu marah? Seraya mendampingi jemaat GKI Yasmin, Lily menyebut bahwa Walikota Bogor yang mengabaikan keputusan Mahkamah Agung yang mengizinkan GKI Yasmin berdiri di Bogor sebagai “konyol”.

Tuhan, dengan nada emosi, Lily mengatakan bahwa Presiden dan Kapolri harus turun tangan. “Mengapa warga negaranya tidak boleh beribadah di situ. Perintah MA itu jelas. Kita ini disorot oleh internasional. Malu kita,” kata Lily.

Tuhan, apakah yang disuarakan Lily adalah suara-Mu? Dia mengatakan Kapolri sebaiknya segera menindak oknum yang melarang jemaat GKI Yasmin beribadah di Bogor. “Tidak ada undang-undang yang melarang orang beribadah.Kalau polisi tidak bisa mengamankan keputusan MA, Kapolri sebaiknya berhenti. Kita hidup rukun puluhan tahun, kok bisa sekarang seperti ini. Ini keterlaluan.”

Tuhan, saya tidak tahu, kapan dinamika yang menimpa saudara-saudara kami di GKI Yasmin dan saudara-saudara kami yang keberatan saudara-saudaranya menyembah-Mu di sana berakhir?

Saya percaya, masa bahagia itu akan tiba pada saatnya. Saya percaya, Engkau telah memakai Walikota Bogor sebagai alat bagi jemaat GKI Yasmin untuk tegar, kuat dan teguh. Walikota Bogor dan juga saudara-saudara kami yang menolak keberadaan GKI Yasmin merupakan alat bagi jemaat GKI Yasmin untuk menjadi batu karang yang kuat dan tetap berdiri kendati diterjang ombak sedahsyat apa pun.

Karena itu, ya Tuhan, berikanlah kebijaksanaan kepada Walikota Bogor Diani Budiarto. Sertailah dia, sehingga dia tetap patuh pada perintah-Mu dan mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Sertai dia ya Tuhan agar beliau senantiasa hormat kepada hukum dan keputusan-keputusan negara.

Tuhanku yang Mahabijaksana, lindungi dan berikanlah limpahan berkat sorgawi kepada saudara-saudara saya yang menolak saudara-saudaranya menyembah-Mu di GKI Yasmin Bogor. Saya percaya, saudara-saudara kami itu tidak tahu apa yang dilakukannya. Karena itu, oh Tuhan, ampuni saudara-saudara kami itu. Saya percaya pada saatnya marah mereka akan berganti tawa dan sukacita.

Tak lupa Tuhan, saya juga mohon kepada-Mu beri kebijaksanaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para pembantunya agar mampu menyelesaikan “pekerjaan rumah” ini sehingga nama-Mu semakin dimuliakan di bumi pertiwi. Kami tidak ingin, Indonesia, sorga ciptaanmu yang nan indah itu ternoda hanya gara-gara keegoisan kami.

Tuhan, demikian surat terbuka saya kepada-Mu. Terimakasih, Engkau sudah membaca dan mendengar kata-kata anak-Mu yang lancang ini. Terimakasih, Engkau juga sudah mengasihi bangsa kami tanpa kecuali.***

5 Comments
  1. FRY says

    selamat bakudapa bung Gantyo

  2. FRY says

    TULISAN YANG AMAT INSPIRATIF SEBAGAI PESAN NATAK OTENTIK DI TAHUN 2011
    "Selamat Natal Mas Gantyo"
    dari teman lama Ferry Rende di Manado

  3. Halo Bung Ferry Rende. Terimakasih atas respons Anda. Apa kabar? Selamat Tahun Baru 2012, semoga di tahun baru, Tuhan memberikan kekuatan dan semangat baru kepada kita.

  4. Anonim says

    Kenapa sampai hari ini GKI Yasmin tidak rutin berjamaah di jalan dekat Yasmin?

  5. Grace says

    Saya berharap konflik yang menimpa GKI Yasmin ini cepat selesai. Dan dalam setiap bentrokan yang terjadi, setiap hambatan beribadah yang mereka hadapi, saya percaya ada campur tangan Tuhan di situ, karena Tuhan bukanlah Tuhan yang meninggalkan anak-anakNya di saat mereka membutuhkan Dia. Semua akan menjadi indah pada waktunya. Sampai saat itu tiba, kita harus tetap berdoa bagi GKI Yasmin.

Leave A Reply

Your email address will not be published.