Catatan Gantyo

Menanti Hasil Putaran II Jokowi-Basuki

0 2

“MEMANGNYA gue pikirin”. Itu adalah sikap saya tatkala warga Jakarta – juga warga Bodetabek – meramaikan proses pemilu kepala daerah DKI Jakarta, baik pada putaran pertama, maupun kedua yang puncaknya akan digelar pada Kamis (20 September 2012).
Karena saya tinggal di Tangerang, maka saya tidak punya kepentingan apa-apa dengan Pemilukada DKI Jakarta, siapa pun nanti yang bakal memenangi putaran kedua, pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi (Nara) atau Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Purnama (Ahok).
Saya mulai tergelitik ingin tahu proses demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta itu setelah masyarakat meributkan isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) setelah pedangdut Rhoma Irama berceramah di sebuah masjid dan mengimbau umat Islam di Jakarta agar jangan memilih pasangan Jokowi-Basuki. 
Dalih Rhoma Irama, Jokowi diragukan keislamannya, karena, menurut sang raja dangdut itu, ibunda Jokowi bukan Islam (belakangan diketahui ternyata Rhoma cuma membual). Alasan lain agar warga Islam Jakarta jangan memilih Jokowi, sebab calon wakil gubernurnya, Basuki Purnama yang bernama asli  Zhong Wan Xie alias Ahok adalah warga keturunan China, penganut Kristen pula. 
Maka kloplah alasan Rhoma mengapa dia menganut paham diskriminasi seperti itu. Buatnya unsur Kristen yang melekat pada Ahok sangatlah mengganggu nurani keimanan Rhoma. Tentu lain soal jika Ahok bernama Zainuddin Basuki setelah melalui proses pemualafan. Jika ini yang terjadi, saya yakin, Rhoma Irama pasti akan berdangdut ria: “Pilihlah Jokowi-Basuki” dan menjadi pendukung berat pasangan ini.
Oke, saya tidak akan memperpanjang persoalan itu. Lagi pula sebagai seorang “dai” yang mendapat kepercayaan untuk berdakwah pada hari itu (di masjid pula), Rhoma “memprovokasi” umatnya sah-sah saja. Saya yakin, para pastor dan pendeta juga akan mengimbau  umatnya agar memilih pemimpin yang kalau bisa yang seiman. Jadi, apa yang dikatakan Rhoma sebenarnya bukan masuk wilayah SARA.
Namun, karena apa yang disuarakan Rhoma di ruang terbatas (masjid) itu digaungkan di ruang publik, maka persoalannya menjadi lain, apalagi setelah pers ikut mengompor-ngompori, dan ujung-ujungnya Jokowi-Basuki ditempatkan sebagai pihak yang “terzolimi.” 
Maka, pasangan ini pun sontak mendapat simpati publik, sehingga apa pun yang dilakukan Jokowi-Basuki (meskipun salah), masyarakat tetap memosisikan keduanya sebagai “benar” dan orang baik. Para pendukungnya tidak lagi rasional. Yang bermain bukan lagi pikiran (otak), tapi hati. 
Karena bukan pengamat politik, apalagi tim sukses kedua pasangan calon gubernur,  saya tidak tahu, siapa yang bakal memenangi putaran kedua, 20 September 2012 besok. Kalau pun Jokowi-Basuki yang keluar sebagai DKI-1 dan DKI-2, maka kemenangan itu diperoleh, karena sebagian besar pemilihnya menggunakan hati. Logikanya, bagaimana Jokowi-Basuki bisa menang padahal mereka belum terlalu siap dengan program membenahi Jakarta. Bicara soal pengalaman, Foke tentu lebih unggul.
Tapi, fakta yang ada di lapangan tentu berbeda. Dukungan kepada Jokowi-Basuki yang digaungkan melalui situs jaringan sosial (Facebook, Twitter, Youtube, blog, dan sebagainya), berdasarkan pengamatan saya, memang luar biasa. Nggak minta bayaran, para relawan sudi berjuang demi Jokowi-Basuki. Analisis yang mereka ungkapkan lewat status di Facebook tatkala kedua pasangan baru saja mengikuti debat di televisi, tetap saja memihak pada Jokowi-Basuki. Apa yang diungkapkan Foke-Nara tak ada benarnya. Pers sendiri sejak putaran pertama hingga putaran kedua, diakui atau tidak lebih bersimpati kepada Jokowi-Basuki.
Sangat mungkin, keperpihakan kepada Jokowi-Basuki, karena para pendukungnya, termasuk para relawan sudah gemas dengan kondisi Jakarta yang seolah-olah berada pada status quo. Mereka merindukan apa yang mereka suarakan, yaitu lahirnya ”Jakarta Baru” alias perubahan.
Hingga minggu tenang tiba, sokongan kepada Jokowi-Basuki tak ada lagi pihak yang bisa membendung. Entah sudah berapa lagu tercipta yang diunggah ke Youtube dalam rangka memberikan dukungan kepada pasangan ”ndeso” (Jokowi) dan lantang (Ahok) ini. Hari Selasa (18 September 2012) masih saja ada yang meluncurkan lagu lawas ”Anak Desa” yang dinyanyikan Ade Putra pada era 1980-an yang syairnya seolah-olah merepresentasikan cita-cita Ahok (anak desa) yang rindu memperbaiki negara.
Iseng, pada 5 September 2012 lalu, saya juga mengunggah lagu ke Youtube. Lagu tersebut saya buat terilhami (dari apa yang dilakukan Rhoma Irama) untuk para pendukung Jokowi-Basuki.  Judulnya: ”Salam SARA Bang Rhoma, Salam Damai Jokowi-Basuki.” Saya memang sengaja membuat judul lagu panjang seperti itu. Namanya juga iseng.
Syairnya seperti ini: 
Jakarta kota megapolitan
Kota milik kita semua, siapa pun pemimpinnya
Harus layak dipercaya
Junjung tinggi akhlak mulia, sabar meski dihina

Salam SARA dari Bang Rhoma
Ganti salam sejahtera, sebarkan perdamaian
Balas benci dengan senyuman
Warga kota merindukan Jakarta yang aman
Refrein:
Ibukota negara, Jakarta perlu ditata
Semuanya dibenahi
Oleh Jokowi Basuki
Saya tidak tahu persis, sudah berapa banyak seniman relawan Jokowi-Basuki yang berkreativitas membuat lagu-lagu penyemangat seperti itu. Kalau dikumpulkan, mungkin lebih dari 10 lagu. 
Saya juga tidak tahu, berapa banyak komunitas yang telah dibentuk oleh para relawan dan pendukung Jokowi-Basuki. Mungkin belasan atau puluhan. Saya tidak tahu, apakah gerakan spontanitas melalui jejaring sosial ini mampu mendongkrak perolehan suara Jokowi-Basuki.
Jika memang Jokowi-Basuki unggul pada putaran kedua dan karenanya ternobatkan sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, semua itu jelas merupakan fenomena yang perlu dikaji dan diteliti ahli sosial dan komunikasi. Yuk, kita lihat quick count-nya di Metro TV, Kamis (20 September 2012 pukul 11.30 WIB). Sukses untuk semuanya, baik yang menang atau kalah. *         

Leave A Reply

Your email address will not be published.