Catatan Gantyo

Ehm Lezatnya, Makan di Pondok Swike Mindoni

0 2

Catatan: Gantyo Koespradono, Wartawan Media Indonesia

SWIKE adalah salah satu makanan kegemaran saya. Rasa masakan ini, terutama kuahnya sangat khas, sementara daging kodoknya, terasa begitu gurih. Anda yang belum mencoba, tak ada salahnya mencicipi masakan yang asalnya dari China tersebut.
Guna melampiaskan selera, setidaknya tiga bulan sekali, lazimnya, saya makan swike di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ada dua restoran swike di kawasan ini, yaitu di Pesanggrahan dan Kedoya, tidak jauh dari kantor saya di Media Indonesia-Metro TV.

Namun, belakangan dua restoran yang menjual menu swike khas Purwodadi itu tidak lagi buka. Rumah makan swike yang ada di Pesanggarahan sejak tiga tahun lalu telah dibongkar. Belakangan rumah makan serupa di Kedoya juga direnovasi dan tiga bulan terakhir halamannya ditutup seng, entah mau dijadikan apa.
Sejak itu, saya mengalami kesulitan mencari swike jika selera berswike tiba-tiba datang. Di kawasan Serpong, Tangerang, memang ada rumah makan kecil yang menyediakan menu swike, tapi rasanya kurang pas, meskipun tetap menggunakan merek dagang ”Purwodadi”.
Purwodadi, kota kelahiran saya yang lokasinya di Jawa Tengah itu memang terkenal dengan masakan swike. Pada tahun 1970-an di kota itu, tepatnya di dekat terminal Purwodadi ada rumah makan) sederhana (dikelola warga keturunan China) yang menjual swike. Larisnya minta ampun. Pengunjung antre.  Harap maklum, rasa swike di sini memang ”maaak nyuusss”.
Rasa rindu berswike itu belakangan terobati setelah pasangan suami istri Tulus Sih Karunianto dari Semarang membuka Pondok Swike ”Mindoni” di Modern Town Market K2B No 26 Kota Modern, Tangerang. Town Market adalah pasar modern layaknya Pasar Modern di Bumi Serpong Damai (BSD) dan Pasar 8 Alam Sutera, Tangerang.
Tulus dan istri membuka pondok swike tersebut  sudah satu bulan ini. Namun, grand launching-nya baru dilakukan Sabtu (3 November 2012). Untuk mengolah kuah swikenya, Atik, istri Tulus, mendatangkan tauco dari Semarang. Harga tauconya memang lebih mahal, ”tapi demi pelanggan, kami harus menyajikan yang terbaik. Kami tidak mau mengecewakan pelanggan, terutama mereka yang sudah terbiasa makan swike yang biasanya sangat peka dengan rasa,” kata Atik.
Meskipun bahan bakunya lebih mahal (dikirim dari Semarang), Pondok Swike Mindoni tidak mematok harga per porsinya lebih mahal daripada swike di tempat lain, yaitu Rp 17.000 per porsi (tidak termasuk nasi putih). Harga ini, menurut saya, jauh lebih murah ketimbang di tempat lain yang mematok Rp 20.000 per satu mangkuk swike. Di Pondok Swike Mindoni, hanya dengan Rp 20.000, perut kita sudah dikenyangkan dengan  satu mangkuk swike, satu piring nasi putih dan minuman (Teh Sosro).
Sehari sebelum launching, saya sudah mencicipi menu khas Pondok Swike Mindoni. Adonan swike yang diolah Atik memang luar biasa. Nikmat dan bikin ”nagih”, ingin mengulang kembali makan swike di pondok ini. Tak salah bila Tulus dan Atik menamakan tempat kulinernya ”Mindoni” (bahasa Jawa) yang artinya ”dua kali” alias nambah lagi.
Selain swike, Pondok Mindoni juga menyajikan gado-gado (siram) khas Semarang. Berbeda dengan gado-gado Jakarta, gado-gado khas Semarang diracik dengan sayuran daun sla, kol mentah, kentang rebus, tahu, tomat dan telor ayam. Rasanya juga sangat khas dan mengundang selera untuk mencoba lagi.
Buat Anda yang belum tahu swike, masakan ini berasal dari China, Swikee. Kuahnya berwarna kecoklat-coklatan beraroma tauco yang sangat khas, berdaging kodok (diambil hanya pahanya).   
Dari Wikipedia, saya mendapat informasi, istilah “swikee” berasal dari dialek Hokkian (Tionghoa) ”sui” (air) dan ”ke” (ayam), yang merupakan slang atau penghalusan untuk menyebut kodok sebagai “ayam air”.
Bahan utama hidangan ini adalah kaki kodok (umumnya dari kodok hijau atau kodok ijo-bahasa Jawa) dengan bumbu bawang putih, jahe, dan tauco, garam dan lada. Dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng dan daun seledri di atasnya, swike biasanya disajikan dengan nasi putih. Ditambah dengan sambal dan cipratan jeruk nipis, rasa swike semakin ”maaak nyusss.”
Selain di Purwodadi, swike juga dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung (salah satu gerai restoran populer adalah “Swikee Jatiwangi”), Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Umumnya restoran-restoran swike di Indonesia menyebut dirinya sebagai restoran “Swike Purwodadi” atau “Swike Jatiwangi”.
Tapi, tidak demikian dengan Tulus Sih Karunianto. Dia sangat percaya diri, tidak ikut-ikutan memakai nama “Purwodadi” atau “Jatiwangi” untuk usaha kulinernya, swike. Pondok Swike “Mindoni”  tampaknya sudah punya nilai jual alias nge-branding. Siapa tahu nantinya jadi usaha waralaba.
Tak banyak yang tahu, daging kodok adalah sumber protein hewani yang kandungan gizinya sangat tinggi. Dari sumber lain, saya mendapatkan informasi bahwa daging kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
Indonesia adalah pengekspor kaki kodok terbesar di dunia. Daging kodok asal Indonesia ini diekspor, terutama ke Prancis, Belgia dan Luksemburg. Di masa lalu kodok diperoleh dengan memburunya di sawah, terutama saat musim hujan. Kini  kodok mulai diternakkan untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri, terutama Prancis.
Tapi, yang pasti di Prancis tidak ada swike. Masakan lezat ini hanya ada di Indonesia, satu di antaranya adalah di Pondok Swike Mindoni. Silakan coba, dijamin Anda akan datang untuk kedua kali ke pondok ini.
Penasaran? Silakan kontak pengelola pondok tersebut di nomor: 0888-6576247 atau 0857-47332291. ***

Leave A Reply

Your email address will not be published.