Catatan Gantyo

Tatkala Rakyat Berpesta Setelah Jokowi Resmi Jadi Presiden

0 2
JOKO Widodo (Jokowi) memecahkan rekor sebagai satu-satunya presiden di dunia yang dirayakan secara gegap gempita oleh rakyatnya setelah ia dilantik menjadi presiden. Tadi malam Jaya Suprana langsung menyerahkan Rekor Muri kepada Jokowi ketika rakyat menghadiri syukuran di lapangan Monas, Jakarta.

Syukuran rakyat tidak saja digelar di Jakarta, tapi juga di berbagai kota. Gegap gempita menyambut presiden baru (Jokowi) tersebut bahkan melebihi ketika anggota keluarga Kerajaan Inggris menikah.

Rangkaian peristiwa dalam satu hari ini (Senin 20 Oktober 2014) sejak pagi hingga malam hari menjadi pembuka sejarah awal – dan pertama – ada seorang presiden yang setelah resmi dilantik oleh MPR disambut dengan pesta rakyat secara luar biasa.

Banyak karyawan yang jauh-jauh hari mengajukan cuti bertepatan dengan hari saat Jokowi dan Jusuf Kalla dilantik, masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden. Alasan cuti adalah agar mereka bisa ikut pesta rakyat di Bundaran HI (siang hari) dan di Monas (malam hari). “Lima tahun sekali, lho,” kata seorang teman.

Meskipun tidak disetujui suami, seorang istri di Bekasi, Senin (20 Oktober) pagi menelepon saya. Ia bertanya bagaimana situasi Jakarta pascapelantikan Jokowi, “sebab saya dan teman-teman mau ke Bundaran HI menyambut Jokowi,” katanya seraya menjelaskan bahwa suaminya tidak setuju ia nimbrung bersama warga Jabodetabek menyambut Jokowi.

Di KRL Commuter jurusan Bogor-Jakarta Kota, Senin (20/10) sore, saya bertemu dengan serombongan anak muda yang akan ke Monas ikut pesta rakyat. Mereka mengaku tinggal di Parung, Bogor. Ke stasiun KA sebelum naik KRL, mereka mencarter dua angkot. Selain nonton konser Slank, mereka juga ingin bertemu Jokowi, pujaan mereka.

Beberapa hari sebelum pesta rakyat digelar, saya mendengar kabar, ada seorang warga yang akan menyumbang 25.000 nasi bungkus guna keperluan makan siang pascapelantikan Jokowi. Tapi warga ini bingung daftar ke mana dan ke-25.000 nasi bungkus itu nantinya diserahkan kepada siapa.

Inilah keunikan fenomena Jokowi. Tanpa dikomando, orang berbondong-bondong menyumbang, datang ikut pesta rakyat dan bereforia menyambut kemenangan dan harapan.

Saya pada Senin (20/10) sengaja nimbrung ke Monas, berbaur dengan warga yang “tumpah” ke Monas. Jam saat itu menunjukkan pukul 17.30. Warga Jakarta (ada juga yang berasal dari kota lain) sudah menyemut di lapangan Monas. Saya perkirakan jumlah mereka puluhan ribu. Mendekati panggung, saya mengalami kesulitan, sebab di depan saya sudah ada “lautan” manusia.

Saya penasaran, mereka datang ke Monas hanya sekadar hura-hura atau memang ingin melihat Jokowi dan mendengar presiden pilihan mereka menyapa. Ternyata, mereka ingin mendengar Jokowi menyapa mereka. Setelah Jokowi menyapa dengan sambutan yang begitu-begitu saja, sebagian dari kerumunan manusia itu meninggalkan Monas.

Namun, sebelumnya, mereka antusias mengikuti acara demi acara. Saat teman saya Jay Wijayanto, memimpin lagu Indonesia Raya, massa juga khusuk menyanyikan lagu kebangsaan tersebut. Begitu pula saat Hasyim Muzadi memimpin doa bersama para pemuka agama lain, massa mengamini apa yang diucapkan Hasyim beberapa saat sebelum tokoh NU itu melafalkan doa.

Pesta rakyat benar-benar terasa di Monas. Hingga menjelang pukul 20.00, rakyat masih berbondong-bondong masuk ke kawasan Monas. Di areal IRTI, pedagang menggelar dagangan hingga menyulitkan pengunjung yang akan keluar arena Monas. Mereka mendulang rupiah.

Sejumlah petualang rela kehilangan uang Rp 2.000-Rp 5.000 hanya untuk “berjudi” kecil-kecilan melempar gelang ke atas rokok dan minuman kaleng. Beberapa saat saya amati tak satu pun “pembeli” yang beruntung memasukkan gelang rotan ke atas rokok dan minuman kaleng. Sang bandar malam itu pasti untung besar.

Di sudut lain, saya melihat ada “mbah dukun” yang buka praktik meramal nasib orang dengan melihat garis tangan. “Kamu dalam waktu dekat akan dapat jodoh dan rezeki melimpah,” kata “mbah dukun” yang malam itu memegang telapak tangan seorang perempuan muda. Sebagai imbal jasa, “mbah dukun” mendapatkan rezeki Rp 5.000, sementara yang diramal entah akan benar-benar dapat jodoh atau malah buntung rezeki.

Di dekat pagar lapangan Monas, saya juga menyaksikan ada beberapa bapak yang mengadu nasib demi mendapatkan hadiah HP buatan China. Untuk mendapatkan hadiah itu, konsumen harus bayar Rp 5.000 dan sang bandar memberikan tiga kali kesempatan kepada pembeli memasukkan cincin rotan ke sebuah paku yang diletakkan “tidur” di atas sebuah tutup botol minuman Coca Cola ukuran besar. Jika pembeli berhasil memasukkan cincin ke leher botol tanpa menjatuhkan paku, maka dia berhak atas HP tersebut. Namun, tak seorang pun pembeli yang sukses memasukkan cincin ke leher botol.

Pesta rakyat malam itu benar-benar milik rakyat. Tak ada onar. “Berjudi” hanya dengan kehilangan uang Rp 2.000-Rp 5.000 tak jadi soal buat siapa pun yang malam itu memadati Monas. Yang penting malam itu mereka gembira, karena Jokowi telah dilantik menjadi presiden.

Kenalkah Jokowi dengan mereka? Kenalkah rakyat secara pribadi dengan Jokowi? Jawabnya sudah pasti tidak! 

Selama ini rakyat hanya mengenal pribadi Jokowi sebagai sosok yang jujur, sederhana, merakyat dan tidak “neko-neko” karena berprinsip “ra popo.” Dari kepribadian Jokowi yang seperti ini rakyat menaruh harapan akan masa depan yang lebih baik.

Jika kelak setelah Jokowi berkuasa, ia melupakan rakyat. Ia tidak lagi jujur, tidak lagi sederhana dan “neko-neko”, maka sudah dapat dipastikan rakyat akan meninggalkannya, karena mereka sudah merasa ditinggalkan Jokowi.

Begitu pula apa yang tertuang dalam tulisan ini otomatis batal demi hukum jika Jokowi ingkar janji dan berefek rakyat semakin tidak sejahtera.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published.