Catatan Gantyo

‘Drama’ Malam dan Subuh di Stasiun Duri

0 57

RATUSAN penumpang KRL Commuter Line yang akan melanjutkan perjalanan pulang ke Tangerang, Jumat malam (28 Agustus) ditelantarkan PT KAI  Commuter Jabodetabek (KCJ) di Stasiun Duri, Jakarta Barat, hingga pukul 02.00 dini hari (Sabtu 29 Agustus). Mereka protes dan akan menggugat PT KAI (KCJ).

Para penumpang KRL terlantar di Stasiun Duri

Para penumpang ditinggalkan begitu saja oleh KRL terakhir tanpa pemberitahuan ketika para penumpang masih menunggu di sejumlah stasiun, seperti Tebet, Manggarai, Sudirman dan Tanah Abang.

Lazimnya, KRL terakhir yang menuju ke Tangerang masih menunggu hingga pukul 23.30 atau pukul 23.45 di stasiun transit Duri. Saya pernah naik KRL dari stasiun ini ke Tangerang pukul 23.45.

Tapi, malam itu pihak PT KAI yang para petugasnya bertugas di Stasiun Duri, rupanya tidak sabar menunggu KRL terakhir dari Bogor menuju Jatinegara (transit di Stasiun Duri) yang mengalami keterlambatan 30 menit.

Malam itu para pengguna jasa KRL yang akan pulang ke Tangerang masih tenang-tenang saja menunggu KRL dari Bogor yang akan mampir ke Duri. Mereka yakin KRL terakhir yang menuju ke Tangerang pasti akan menunggu mereka, termasuk saya yang malam itu menunggu di Stasiun Tanah Abang sejak pukul 22.00.

Sekitar pukul 22.15 petugas di Stasiun Tanah Abang mengumumkan bahwa KRL terakhir dari Bogor menuju Jatinegara (transit di Duri) masih berada di Citayam. Para penumpang pun menunggu dengan sabar. Sekali lagi, malam itu sama sekali tidak ada pengumuman bahwa di Stasiun Duri tidak ada lagi KRL yang ke Tangerang. Oleh sebab itu para penumpang tetap tenang karena situasinya masih dianggap normal.

Sekitar pukul 23.35, KRL yang menuju Jatinegara lewat Duri masuk Stasiun Tanah Abang. Para penumpang pun naik. Entah mengapa, KRL tidak segera diberangkatkan, dan KRL baru bergerak menuju Duri lima menit kemudian.

KRL yang kami naiki tiba di Stasiun Duri pukul 23.46. Masya Allah, petugas stasiun di sini memberi kabar bahwa KRL terakhir ke Tangerang telah diberangkatkan, kerena KRL dari Bogor mengalami keterlambatan tiba di Duri lebih dari 30 menit.

Ibu dan anak balitanya ikut terlantar

Saat itu ada lebih dari 100 penumpang yang akan pulang ke Tangerang. Ada seorang ibu yang membawa anaknya yang masih balita,  perempuan karyawan yang baru pulang dari kantor dan rombongan anak-anak SMU Muhammadiyah Tangerang.

Atas saran petugas, sebagian penumpang yang “mengalah” dan melanjutkan perjalanan dengan ojek. Beberapa bulan lalu, saya juga pernah mengalami nasib seperti ini. Saya dan beberapa penumpang kembali ke Stasiun Tanah Abang dan naik angkot.

Hal itu saya lakukan, sebab pada malam hari angkot sudah tidak lewat di depan stasiun. Taksi pun jarang melintas, sebab posisi Stasiun Duri tidak strategis. Stasiun ini berada di perkampungan penduduk meskipun kalau ditarik garis lurus jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat perdagangan Roxi Mas.

Karena jumlah penumpang Jumat malam kemarin lumayan banyak, saya berteriak kepada  para penumpang agar jangan mau diperlakukan sewenang-wenang oleh PT KAI yang seharusnya bertanggung jawab mengantarkan penumpang hingga ke Tangerang. Saya jelaskan bahwa para penumpang punya hak menuntut agar PT KAI bertanggung jawab.

Sebagian penumpang tidak sabar dan melanjutkan perjalanannya ke Tangerang dengan caranya sendiri. Namun, sebagian besar penumpang  tetap bertahan di stasiun hingga PT KAI memberikan solusi atas nasib kami. Kami bertahan bukannya dendam dan benci kepada PT KAI, tapi justru kami cinta kepada perusahaan negara ini agar lebih profesional dalam melayani publik.

Beberapa penumpang dengan agak emosi berdialog dengan petugas perjalanan KRL untuk mencari kejelasan. Banyak penumpang yang marah karena tidak puas mendengar jawaban petugas. Intinya, penumpang tetap menuntut agar PT KAI (petugas Stasiun Duri) mengantarkan kami hingga ke Tangerang dengan KRL. Bagaimana caranya, kami tidak peduli.

Kepada petugas perjalanan KRL, saya mengatakan: “Cobalah PT KAI bertanggung jawab, layanilah penumpang sebagaimana mestinya. Jangan seenaknya menelantarkan penumpang dan merasa tidak bersalah, lalu menganggap para penumpang sebagai pihak yang tidak berdaya.”

Setelah didesak para penumpang lainnya, petugas memberikan solusi akan memberikan ganti berupa uang sebesar harga tiket yang berkisar Rp 2.000-Rp 3.000. Lha, kok enak sekali?  “Pak, itu sih bukan solusi. Soal uang sih saya siap memberikan uang saya yang lain kepada petugas di sini, tapi saya hanya ingin minta kejelasan nasib kami dan seperti apa bentuk tanggung jawab PT KAI,” kata seorang perempuan penumpang.

Karena tidak bisa memutuskan, saya dan beberapa penumpang lain menyarankan agar petugas (penanggung jawab) perjalanan KRL menghubungi atasannya. Saya jelaskan kasus serupa juga pernah terjadi di Stasiun Manggarai beberapa waktu yang lalu. Setelah para penumpang berdemonstrasi dan atas kebijakan Kepala Stasiun Manggarai, para penumpang diantarkan ke stasiun tujuan dengan KRL khusus.

Kalau di Stasiun Manggarai bisa, mengapa di Duri tidak, pikir saya. Namun, petugas di Stasiun Duri tidak berani mengambil keputusan. Setelah didesak para penumpang, petugas akhirnya menyatakan akan mengontak “atasan” yang disebutnya sebagai “pengawas stasiun.”

Para penumpang tetap sabar menunggu. Namun hingga pukul 01.00, atasan yang disebut-sebut sebagai pengawas stasiun itu tak kunjung datang. Belakangan yang datang malah sejumlah oknum polisi dari Polsek Tambora dan orang-orang berbaju loreng.

Sebelumnya kami sempat diminta berbaris dan menghitung untuk mengetahui jumlah penumpang yang masih bertahan di Stasiun Duri. Total masih ada 87 penumpang.

Seorang oknum polisi bertubuh tinggi datang seolah ingin menyelesaikan persoalan. Kepada para penumpang dia bertanya ada masalah apa? Ketika kami menjawab bahwa kami ditelantarkan dan menuntut agar PT KAI bertanggung jawab mengantarkan kami ke Tangerang, dia kembali bertanya, “Oh, jadi bapak-bapak mau naik kereta lagi?”

Dia kemudian mengungkapkan kata-kata yang kami kesankan “menghina” kami dan Presiden. “Kalau mau diantar pakai kereta, sana telepon saja Jokowi.”

Lontaran oknum polisi yang entah apa maksudnya itu membuat sejumlah penumpang marah, apalagi sang polisi membentak salah seorang di antara kami yang sedang merekam dialog di antara kami dengan sebuah ponsel. “Ngapain pakai rekam-rekam segala. Matikan!”

Situasi semakin memanas. Saya meminta penumpang yang emosi agar tetap tenang. Saya juga minta kepada sang polisi agar jangan bertindak kasar. Saya ingatkan para penumpang jangan terprovokasi, sebab sangat mungkin oknum polisi itu sengaja memancing emosi penumpang dan terjadi kegaduhan.

Jam saat itu sudah menunjukkan pukul 01.30. Situasi semakin memanas. Orang-orang berseragam loreng semakin banyak. Orang-orang yang tak jelas asal usulnya mulai memasuki stasiun. Saya minta kepada anak-anak muda yang kebetulan penumpang KRL agar mengawasi orang-orang asing yang masuk ke areal stasiun. Saya tidak ingin orang-orang ini menyamar sebagai penumpang dan berbuat onar dan akhirnya menangkap beberapa di antara kami, termasuk saya.

Pelajar SMU Muhammadiyah Tangerang

Jam sudah hampir pukul 02.00, nasib para penumpang masih belum jelas. Kesewenang-wenangan ini harus diluruskan. Saya kemudian minta bantuan kepada beberapa anak muda untuk mengumpulkan nama, tanda tangan dan nomor telepon, untuk keperluan gugatan misalnya.

Pukul 02.02, seorang satpam mendekati saya dan membisikkan ke telinga saya bahwa para penumpang telah disediakan empat bus mini yang siap mengantarkan kami ke Tangerang.

Sekitar pukul 02.05, kami naik ke dalam bus mini. Ada kekompakan di antara kami. Kami memang lega. Tapi solusi ad-hoc atas kesewenang-wenangan PT KAI yang menimpa kami Jumat malam dan Sabtu subuh itu tak boleh dilestarikan. Pasalnya, kasus seperti ini, menurut beberapa penumpang, sudah kerap terjadi di Stasiun Duri.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan kami, para penumpang tujuan Tangerang selama ini sering dianaktirikan. Ada KRL pada jam-jam tertentu yang sangat padat penumpang karena dijejali oleh penumpang transit dari 6-7 rangkaian KRL. Para penumpang tak ubahnya ikan dalam kaleng sarden.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published.