Catatan Gantyo

Asyik, PDIP Bermain Cantik

0 2

ASYIK, permainan semakin “cantik”. Jika diibaratkan sepakbola, para pemain PDIP lagi senang-senangnya menggocek bola dalam arena kejuaraan pemilihan gubernur DKI Jakarta. Ada yang nendang entah bola lari ke mana, dan ada pula tendangan pisang, tapi bola mengarah ke mana, nggak jelas.

Tapi, apa pun pola permainannya, bola kini ada di kaki PDIP. Kemampuan individu tim PDIP memang merata dan layak diperhitungkan lawan, terutama oleh tim Ahok.

PDIP tak peduli dengan Jurgen Klopp, pelatih tim Liverpool yang pernah mengatakan bahwa dalam bermain sepakbola bukan sebelas pemain bintang yang diutamakan, tapi timlah yang menjadi andalan. Bagi PDIP “itu, mah teori”. Yang penting bagaimana kaki lawan bonyok dan tidak bisa bertanding.

Sekadar contoh, Bambang Dwi Hartono, Pelaksana Tugas Ketua DPD PDIP DKI Jakarta, memastikan bahwa partainya tidak akan mendukung – apalagi mengusung – Ahok yang disebutnya tidak lagi didukung mayoritas warga Jakarta. Ia mengklaim sudah melaporkan soal semakin surutnya pamor Ahok ini kepada Megawati.

Meskipun tidak terucap, ia tampaknya bernafsu mengusung Tri Rismaharini dari Surabaya ke Jakarta. Maklumlah, ia berkepentingan Risma ke Jakarta agar Bambang DH leluasa bermain di kandang Persebaya dan Jawa Timur. Wisnu Sakti Buana, wakil walikota Surabaya adalah sohibnya. Wisnulah yang tempo hari – saat ia masih menjadi anggota DPRD — memelopori gerakan “mosi tidak percaya” kepada Risma.

Saat Risma akan maju kembali sebagai calon walikota Surabaya, Bambang juga usil lagi. Dalam sebuah wawancara di media, Bambang menyebut Risma tidak memberikan suatu hal yang baru di kota Surabaya. Bambang mempersilakan Risma agar mencari partai lain sebagai pengusung jika pada Pilkada 2015 masih ingin maju. Bambang juga menyebut Risma terlalu berlebihan dalam bersikap.

Dianggap kecil oleh Bambang, Risma tetap maju mencalonkan diri sebagai calon walikota dan “dipaksa” oleh PDIP untuk berpasangan dengan Wisnu Sakti Buana. Seperti diperkirakan banyak orang, Risma menang dengan perolehan suara cukup fantastis, 80 persen pada Pilkada Serentak yang digelar Desember 2015 lalu.

Belum sempat setahun memimpin Surabaya, Risma digadang-gadang PDIP – juga Bambang DH – ke Jakarta agar Ahok bonyok. Nasihat banyak orang agar janganlah menyiapkan “kuburan” di Jakarta buat orang terbaik di daerah tak digubris.

Bagi Bambang DH dan sebagian konco-konconya, yang penting Risma harus ditarik ke Jakarta, sehingga kroninya, Wisnu Sakti, bisa menunjukkan “kesaktiannya” sebagai walikota Surabaya yang ditinggalkan Risma. Bambang pastinya tak peduli bahwa kelak bisa saja Jakarta menjadi “kuburan” buat Risma.

Sementara itu Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, kepada Metro TV menegaskan partainya sampai sekarang belum menentukan sikap jadi atau tidak Risma ditransfer ke Jakarta untuk menumbangkan dominasi Ahok.
Dalam upaya mempersiapkan rencana untuk meraih kemenangan dalam pilkada mendatang, kader PDIP lain juga melakukan manuver cantik agar kubu Ahok termehek-mehek. Manuver itu diembuskan “gelandang” andalan PDIP, Masinton Pasaribu.

Melakukan gerakan tanpa bola, ia membuat pernyataan mengejutkan yang sepertinya masuk akal juga (?). Ia bilang: “Meski kambing yang dibedaki sekali pun kami usung pasti menang, apalagi lawannya cuma Ahok.”

Kalau begitu kita tunggu, jika tidak jadi mencalonkan Risma, kapan PDIP mencalonkan kambing? Siapa tahu setelah masuk salon, kambing yang diunggulkan Masinton terpilih menjadi gubernur DKI.
Saya memelintir pernyataan Masinton? Tidak. Pernyataan kontroversial Masinton sudah tersebar ke mana-mana, kok.

Jika tidak percaya, silakan googling dan ketik “masinton kambing” di mesin pencari Google, sosok Masinton pasti muncul dan menempati posisi teratas. []

(Dikutip dari Facebook)

Leave A Reply

Your email address will not be published.