Catatan Gantyo

Kambing dan Dinamika Pilgub DKI

0 44

ASYIK, proses pencalonan gubernur DKI Jakarta belakangan ini semakin dinamis dan menggairahkan setelah Partai Gerindra menetapkan Sandiaga Uno sebagai cagub, sehingga sedikit mengeliminasi dominasi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Dinamika dan “kreativitas” pun terberitakan ke publik. Guna meyakinkan warga Jakarta bahwa Sandiaga merakyat, anak laki-laki Mien Uno ini kemarin bepergian naik angkutan umum (Kopaja) dan duduk “ndepipil” di bangku belakang.

Halo Bang Sandiaga, tak usahlah dengar suara sumbang di media sosial (medsos) yang mengatakan Anda membangun pencitraan. Maklumlah, mereka mungkin lupa bahwa beberapa bulan lalu Anda telah melakukan aksi kerakyatan, yaitu memunguti sampah-sampah yang berserakan (?) di Bundaran Hotel Indonesia.

Abaikan para pelantun suara sumbang. Tahun 2016 masih lima bulan. Manfaatkan waktu ini hingga akhir tahun nanti untuk menjadi warga biasa kota Jakarta. Ke kantor, lanjutkan naik Kopaja, Metro Mini, Mikrolet, dan Transjakarta. Ikuti jejak Yusril Ihza Mahendra yang pernah naik Commuter Line. Dengan begitu Anda bisa mengetahui dan merasakan bagaimana “susahnya” warga Jakarta yang akan Anda pimpin nanti. Jika perlu naik odong-odong yang biasa digunakan emak-emak ke pasar tradisional di kampung-kampung.

Menurut saya, itu cara ampuh untuk menumbangkan Ahok yang selama ini elitis jarang turun atau blusukan ke lapangan.

Tak usahlah risau dengan hasil survai yang dilakukan Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia yang menghasilkan data bahwa Ahok menduduki peringkat pertama (79,74 persen) sebagai tokoh yang paling direkomendasikan untuk maju sebagai cagub dalam Pilkada Februari 2017, sementara Anda hanya 29,78 persen.

Percayalah jika Anda konsisten berkopaja, bermetromini dan bertransjakarta atau berodong-odong ria, angka di atas akan berubah menjadi 87,92 persen untuk Anda. Apalagi jika survai dilakukan terhadap para penumpang Kopaja, Metro Mini, Transjakarta dan odong-odong.

Ingat, angka versi Laboratorium Psikologi Politik UI itu angka semu. Pasalnya, jumlah responden yang disurvai hanya 250-an. Itu pun responden yang sudah dipilih secara subyektif dan sangat mungkin semuanya pendukung Ahok. So, jangan khawatir.

Anggap saja itu bagian dari dinamika politik yang memang sedang ramai setelah Anda ditetapkan sebagai cagub oleh Gerindra.

Kembali ke topik utama. Proses pencalonan gubernur DKI juga semakin dinamis setelah PDIP melakukan manuver-manuver cantik bak model majalah pria dewasa. Salah satunya adalah ketika Pelaksana tugas Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Bambang DH yang jelas-jelas meminta kader PDI-P di Jakarta tidak ragu menyuarakan penolakan terhadap Ahok.

Luar biasa. Pernyataan Bambang menepis spekulasi bahwa Ahok telah merapat ke PDIP dan bakal mendapat dukungan dari partai banteng moncong putih itu setelah Basuki, Megawati dan Jokowi berada di dalam satu mobil saat mereka menghadiri acara Rapimnas Partai Golkar beberapa hari lalu.

Asyik. Bambang DH dengan keyakinan penuh (semoga PDIP konsisten tidak mendukung Ahok) berkata: “Sebagai pimpinan di PDIP DKI, saya sudah laporkan ke Ibu Megawati. Ibu Ketum, saya sudah dengar suara rakyat, mayoritas sudah tidak menghendaki incumbent (Ahok).”

Masa “keemasan” Ahok bakal lewat? Boleh jadi, apalagi dalam sepekan terakhir ini ada gerakan pengumpulan 3.000.000 KTP untuk menolak Ahok. Diberitakan, Forum RT/RW optimistis melalui dukungan maksimal dari sejumlah RT dan RW se-Jakarta, maka pengumpulan 3.000.000 KTP akan rampung pada September 2016 nanti. “Jangan sepelekan RT/RW. Mereka ini pengawas wilayah, kami yakin dalam waktu dekat KTP ini akan terkumpul,” ungkap Sekjen Forum RT/RW Lukman Hakim.

Jika benar, aksi itu bakal benar-benar menohok Ahok. Mantan bupati Belitung Timur ini diperkirakan bakal tak berdaya. Ia tidak mungkin memecat ketua RT dan ketua RW, sebab mereka dipilih rakyat, bukan organik Pemprov DKI.

Politik pencalonan gubernur DKI Jakarta semakin dinamis dan aduhai setelah kader andalan PDIP di DPR, Masinton Pasaribu, mengungkapkan optimisme partainya bahwa PDIP pasti akan mampu mengalahkan Ahok dalam pilkada nanti. Dia bilang disandingkan dengan kambing yang “dibedakin” pun, Ahok pasti kalah.

Fenomena perpolitikan menjelang pilgub di DKI memang menarik. Kita tunggu, PDIP siapa tahu benar-benar mengajukan kambing dalam Pilkada Serentak 2017.

Rasa-rasanya yang bisa mengalahkan Ahok memang kambing, sebab pesaing-pesaingnya sudah pada s…ting. Ya, … terjepit resleting (anunya). []

(Dikutip dari Facebook)

Leave A Reply

Your email address will not be published.