Catatan Gantyo

Menimba Ilmu Ustad Mantan Pembenci Pancasila dan Gus Dur

0 68
Bersama dengan Mohammad Monib (berbaju putih). Foto: Dok Pribadi.


BERSAMA teman di Grup Netizen Untuk Negeri, Sabtu (21 Januari 2017) siang di Dapur Blok M, Melawai, Kebayoran Baru, saya berbincang-bincang dengan Mohammad Monib, ustad yang pernah anti-Pancasila dan “amit-amit” mencium tangan Gus Dur.

Ngobrol-ngobrol tentang Islam selama lebih dari satu jam dengannya — ia juga anggota Netizen Untuk Negeri –, lumayanlah, saya mendapat wawasan tentang Islam yang ternyata punya banyak aliran dan mazab, termasuk yang bergenre garis keras.

Berkali-kali ia menyebut bahwa di dalam Islam yang mengajarkan rahmat untuk semua makhluk dan cinta damai, ada komunitas yang belakangan ini tengah “naik daun” lantaran mengobarkan intolerasi dan radikalisme.

Gerakan intolernsi dan radikalisme yang disebut Monib sebagai awal mula lahirnya terorisme. Ia pun kemudian menceritakan secara panjang lebar kapan dan di mana gerakan radikalisme-terorisme itu muncul. Pemicu atau penyebab utamanya bukan agama, melainkan politik.

Jika pun di Indonesia belakangan ini gerakan semacam itu muncul, menurut Monib, lagi-lagi motifnya adalah politik dan kekuasaan, bukan agama. Ia menyebut tokoh ormas “keagamaan” yang belakangan mendapat sorotan publik itu sesungguhnya adalah preman berjubah agama. Sang tokoh pandai mengemas agama untuk mendapatkan dukungan dan ujung-ujungnya uang.

Sebelum saya lanjutkan catatan ini, ada baiknya saya perkenalkan dulu siapa sebenarnya Mohammad Monib.

Di kalangan muslim, Monib sudah sangat populer. Ia kini punya banyak musuh lantaran mengungkapkan pengalaman imannya tanpa tedeng aling-aling, baik yang disampaikan lewat ucapan maupun tulisan.

“Saat nyantri di sebuah pesantren, bahkan awal-awal kuliah ada dua hal yang ekstrem dan kaku dalam cara pandang dan sikap keislamanku,” ungkap Monib dalam sebuah tulisannya sebagaimana dimuat di muslimmedianews.com.

Dua hal ekstrem yang dimaksudkannya — juga diungkapkan lagi dalam obrolan kemarin — adalah pertama, Monib anti-Pancasila. Kedua, ia bersumpah tidak akan mencium tangan Gus Dur.

Mengapa dia anti-Pancasila? Monib menceritakan saat nyantri di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, ia pernah beguru kepada seorang tokoh penganut wahabi. “Dari dialah saya akhirnya memusuhi pemerintah dan negara — termasuk Pancasila — karena saya anggap musyrik dan harus dilawan,” katanya.

Lalu mengapa ia membenci Gus Dur padahal Monib berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU)? Lagi-lagi itu berkat pengaruh wahabi sang guru. Saat ia melek berislam dan berintelktual ala wahabi, Monib berkeyakinan bahwa Gus Dur adalah perusak Islam, agen Yahudi dan pemikirannya aneh, nyeleneh dan bikin pusing.

Aneh memang, padahal secara sosiologi dan budaya, Ustad Monib lahir dari keluarga NU. Sang kakek, KH Zayyadi adalah santri Mbah Kholil, waliyullah dan guru bagi kiai-kiai se-Madura dan Jawa. Dalam catatannya, Monib adalah satu “kotakan”, gubuk dan ruangan dengan KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

Dalam pengembaraan iman yang penuh dengan lika liku, Monib akhirnya menemukan iman Islam yang rahmatan lil alamin dan dipegang teguh hingga sekarang.

Ia bertobat setelah banyak belakar dari Nurcholish Madjid (Cak Nur) . Ia kini mencintai pemikiran keislaman Gus Dur dan membatalkan sumpah, bahkan dengan lahap mencium tangan Gus Dur.

Proses itu diawali akhir 1999 saat ia mengajar di SMU Madania Bogor. Sekolah berasrama ini digagas oleh Cak Nur. Di sekolah ini secara intens Monib diasah oleh suhu Nafis. “Sejak itu saya menikmati garis metodologi dan ideologi keislaman, keindonesian dan kemodernan. Akrablah saya dengan istilah inklusivisme, al-hanifiyat al-samhah, toleransi, pluralisme, egaliter, Piagam Madinah dan lain-lain. Pokoknya wacana Islam kontemporer-lah,” tulisnya.

Kini Monib punya banyak kawan dari latar belakang kepercayaan yang berbeda (lintas iman). Ia bersahabat dengan banyak pendeta dan pastor.

Ia sedang mempersiapkan sebuah pesantren di Bogor. Informasi yang saya peroleh dari teman di Netizen Untuk Negeri, guna mewujudkan pesantrennya itu, ia juga dibantu banyak tokoh non-Islam, termasuk para pendeta dan pastor.

Saya bertanya kepada Monib, andai saja Anda tetap penganut Islam radikal, sekarang ini Anda jadi apa?

Dengan lantang dan berapi-api, ia menjawab:”Saya pasti anggota FPI dan menjadi komandan di garis depan (lapangan) dan yang mengajak pasukan berteriak serang.”

Dia sangat yakin dengan hal itu, sebab saat aliran garis keras itu ia yakini, Monib pernah memimpin “pasukan” lapangan masuk ke daerah-daerah di Jawa Timur yang dicurigai terjadi kristenisasi. “Ya, waktu itu sayalah yang berada di depan untuk melawan gerakan itu,” katanya.

Monib melanjutkan, umat Islam di Indonesia mesti menyadari bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan yang anti-damai. Aliran wahabi hanya melihat ayat-ayat suci berdasarkan teks, bukan konteks. Umat Islam di Indonesia harus banyak belajar.

Dia mengungkapkan, mereka yang berpaham radikalisme sangat mudah terjerumus pada terorisme. Monib menjelaskan punya kenalan bekas teroris yang sangat ahli yang begitu yakin bisa membujuk seseorang agar mau menjadi “pengantin” (pelaku bom bunuh diri) hanya butuh waktu 10 menit.

“Nggak tahu ilmu apa yang dipakai, hanya dengan waktu 10 menit ngomong, seseorang langsung bersedia menjadi pengantin,” tegas Monib.

Dilatarbelakangi kenyataan itu, ia mengajak umat Islam yang cinta damai agar waspada. Jangan mau diperdayai tokoh ormas yang seolah-olah membela agama, tapi motifnya hanya politik dan uang.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published.