Catatan Gantyo

Keindonesiaan Kita Telah Selesai

0 3

TANAH airku Indonesia//Negeri elok amat kucinta//Tanah tumpah darahku yang mulia/yang kupuja sepanjang masa//Tanah airku aman dan makmur//Pulau kelapa yang amat subur//Pulau melati pujaan bangsa/sejak dulu kala//.

Melambai lambai/nyiur di pantai//Berbisik-bisik/Raja Kelana//Memuja pulau/nan indah permai//Tanah Airku Indonesia//.

Lagu nan menggugah dan syairnya begitu indah ciptaan Ismail Marzuki di atas bukan disenandungkan grup paduan suara atau solis di acara kenegaraan, tapi berkumandang begitu syahdu di ruang ibadah saat jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Tangerang menggelar kebaktian Minggu (19 Agustus 2018).

Lagu itu dinyanyikan jemaah bukan sekadar pelengkap, melainkan dimasukkan dalam liturgi. Bagi jemaah gereja Kristen di mana pun di Indonesia, di saat bangsa ini memeringati hari ulang tahunnya, memasukkan lagu-lagu kebangsaan dalam peribadahan Minggu, bukan lagi keterpaksaan, melainkan kewajaran sebagai bentuk ungkapan syukur karena Allah telah menyertai dan memberikan berkah kemerdekaan buat bangsa Indonesia.

Dalam ibadah Minggu (19/8), masih di GKJ Tangerang,anak-anak sekolah minggu yang lugu dan lucu-lucu juga menyanyikan lagu berjudul “Indonesia Bermazmur”. Syairnya seperti ini:

Kami anak-anak Allah di Indonesia/dari Sabang sampai Merauke/diikat dengan kasih Yesus//Kami bangga terpilih imamat Rajani//Bangsa besar kepunyaan Allah//.

Kami anak-anak Allah yang cinta Indonesia//Bersatu dan bersehati/membangun negara tercinta//Yesus besertamu/Tuhan memberkatimu Indonesia jaya Indonesia//.

Indonesia penuh kasih dan kuasa-Nya//Indonesia diberkati kemuliaan-Nya//Indonesia pelita dan garam dunia//Indonesia bermazmur bagi-Nya//.

Lewat lagu itu, anak-anak sejak dini dididik untuk terbiasa bersyukur atas berkah luar biasa yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, bukan saja anak-anak, kita yang dewasa juga layak bermazmur (memuji) Allah.

Bangsa Indonesia pantas bersyukur dan memuji-muji Tuhan karena Tuhan telah memberikan kemerdekaan kepada kita, sehingga secara formal usia negara kita pada tahun ini telah berusia 73 tahun.

Jika kita mampu bersyukur dan memuji-muji-Nya, maka sesungguhnya keindonesiaan kita telah selesai.

Selayaknya kita bersyukur, sebab di saat kita memperingati HUT ke-73 kemerdekaan, keindonesiaan kita yang telah selesai itu terpancar dari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, mulai dari yang sederhana hingga yang super-wah.

Peristiwa sederhana tentang keindonesiaan kita yang telah selesai itu datang dari seorang anak SMP bernama Yohanis Gama. Ia anak kampung. Yohanis tinggal di RT 12/RW 05 Dusun Halimuti, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bocah yang duduk di bangku kelas VII SMP itu terusik ketika melihat bendera merah putih nyaris tidak bisa berkibar karena saat akan dikibarkan dalam upacara resmi peringatan HUT ke-73 RI, tali yang akan digunakan mengerek bendera putus di ujung tiang.

Spontan ia memanjat tiang bendera yang tingginya lebih dari 10 meter tanpa sempat berpikir bahwa ia bisa saja terjatuh. Tindakan itu ia lakukan karena Yohanis hanya ingin melihat bendera merah putih berkibar saat upacara HUT Kemerdekaan RI di Pantai Mota’an, Desa Silawan, Kabupaten Belu, Jumat (17/8).

Pamrihkah Yohanis? Anak seusia dia tentu belum mengenal pamrih. Semua itu dia lakukan demi Indonesia. Keindonesiaan dalam jiwa raganya telah selesai. Bahwa setelah itu dia diundang ke Jakarta bertemu dengan para tokoh adalah konsekuensi dari tindakan heroiknya.

Untuk mencintai Indonesia, ia tidak perlu harus ikut pawai membawa replika senapan laras panjang seperti yang dilakukan anak-anak di sebuah kota di Jawa Timur. “Apa yang dilakukan Yohanis di NTT adalah wujud kemerdekaan seorang bocah yang mencintai negerinya, Indonesia,” kata Vikaris Ivan Gilang Kristian saat berkhotbah di GKJ Tangerang pagi tadi (Minggu 19/8).

Peristiwa lain yang membuktikan bahwa keindonesiaan kita telah selesai adalah saat untuk kedua kalinya negeri kita menjadi tuan rumah perhelatan Asian Games yang dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Gelora Bung Karno pada Sabtu (18 Agustus) malam. Kita pertama kali menjadi tuan rumah Asian Games (AG) saat AG ke-4 digelar di Jakarta pada tahun 1962.

Dalam event bergengsi itu, negeri ini di bawah kepemimpinan Jokowi mampu menunjukkan kepada dunia, setidaknya masyarakat Asia bahwa Indonesia sangat kaya akan budaya.

Lewat acara pembukaan yang spektakuler itu, kita tersentak bahwa Indonesia bukan saja sangat kaya, melainkan juga indah. Banyak teman yang mengaku merinding dan menangis saat menyaksikan acara pembukaan Asian Games lewat tayangan langsung di televisi.

Mereka mengaku menangis karena belum mampu berbuat apa-apa buat negerinya sendiri. Mereka, termasuk saya terharu, sebab setelah menyaksikan seremonial pembukaan Asian Games yang wah itu,baru tersadar bahwa Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika-lah yang selama ini membuat Indonesia begitu indah, cemerlang dan bersatu dalam keberagaman.

Karena itu saya tidak habis pikir jika di saat keindonesiaan kita telah selesai, ternyata masih ada sekelompok orang di sini yang bernafsu merusak dan mengganti sang Bhineka Tunggal Ika, izinkan saya bertanya: mereka itu sebenarnya siapa? Orang Indonesiakah mereka?[]

(Dikutip dari Seword.com)

Leave A Reply

Your email address will not be published.