Catatan Gantyo

Apakah Eating Disorders Termasuk Gangguan Mental?

0 2

Oleh Fika Almira Yuniar
(Mahasiswi London School of Public Relations)

Sumber: townandcountrymag

TAHUKAH  Anda Princess of Wales atau yang kita kenal Princess Diana semasa hidupnya pernah mengalami bulimia? Tapi, sampai sekarang banyak di antara kita belum apa sesungguhnya bulimia.

Bulimia adalah salah satu jenis gangguan pola makan yang serius dan berpotensi mengancam jiwa pengidapnya.

Pengidap bulimia lazimnya memiliki kebiasaan untuk menjaga berat badan dengan tidak makan sama sekali atau makan dalam porsi sedikit sekali. Namun, sunggguh paradoks. Perilaku lainnya kadang makan dalam jumlah yang sangat banyak, lalu mengeluarkan makanan tersebut dari tubuh secara paksa.

Diana telah berjuang bersama dengan penyakitnya itu selama 11 tahun. Dikutip dari CNN.Indonesia, Diana pernah mengungkapkan masalah bulimianya itu dalam sebuah wawancara dengan BBC tahun 1995.

Dia mengungkapkan bahwa pernikahan yang penuh drama dan perceraiannya dengan Pangeran Charles berimbas pada kepercayaan diri serta kesehatan mentalnya.

Sumber: Jatimtribunnews

Dalam salah satu pernyataannya, Putri Diana pernah mengungkapkan, “Saya tidak suka dengan diri saya sendiri, saya malu karena tidak bisa mengatasi tekanan, saya mengalami bulimia selama beberapa tahun, dan itu seperti sebuah penyakit rahasia, ini sebuah pengulangan pola yang bisa sangat merusak diri sendiri.”

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of  Mental Disorders Fifth Edition, Eating Disorders atau gangguan makan terbagi dalam delapan katagori yang terdiri dari gangguan makan pica, rumination disorder, avoidant/restrictive food intake disorder, anorexia nervosa, bulimia nervosa, gangguan makan binge, gangguan makan spesifik dan gangguan makan tidak terdefinisi.

Jadi, seseorang dikatakan menderita gangguan makan (eating disorders) paling tidak gangguan perilakunya, termasuk dalam salah satu katagori tersebut di atas, walaupun faktor penyebabnya bisa beragam.

Seseorang yang sudah dinyatakan mengidap eating disorders, dalam pikirannya sering muncul anggapan bahwa dirinya merasa ada perubahan pada tubuhnya, misalnya sebelum makan tubuhnya masih terasa langsing, tetapi selesai makan  tubuhnya merasa lebih berisi dan cepat gemuk.

Dalam beberapa kasus gangguan makan yang terjadi pada perempuan yang sedang menstruasi, pengidap  bisa tidak makan sampai berhari hari dan hanya mengonsumsi air mineral. Kalau pun makan,  biasanya makanan  tersebut akan dikeluarkan lagi.  Walaupun dalam beberapa kasus tidak setiap perilaku seperti tersebut bisa dikatagorikan dalam anorexia nervosa, bulimia dan binge eating disorder.

Pengalaman (trauma) masa lalu juga bisa menjadi faktor penyebab, misalnya di masa lalunya penderita sering dibuly oleh teman teman sekolahnya, bentuk tubuhnya sering dikatakan sangat gendut atau ketika ada pelajaran olahraga tidak bisa beraktivitas sewajarnya, seperti berlari kencang, dan sebagainya. Pengalaman seperti itu bisa berpengaruh terhadap gangguan mental yang berujung pada perilaku eating disorders.

Bagaimana eating disorders dalam pandangan psikologi? Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, dan eating disorders juga berhubungan dengan perilaku manusia. Maka pendekatan psikologi sangat relevan dan berperan membantu para penderita untuk bisa terbebas dari perilaku menyimpang tersebut.

Dalam ilmu psikologi, eating disorder masuk dalam ranah psikologi klinis, yaitu pendekatan psikologi yang diterapkan dan digunakan untuk dapat memahami dan memberi bantuan bagi mereka yang mengalami masalah-masalah psikologis, dan  memberi bantuan mereka yang mengalami gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku abnormal.

Eating disorder merupakan gangguan perilaku yang membutuhkan penanganan psikologis. Agar penderita dapat sembuh, maka di samping mendapatkan penanganan medis, penderita juga perlu pendampingan khusus agar mampu keluar dari kesulitan kesehatan mentalnya. Bila dibiarkan  akan mengganggu mental individu si penderita.

Kita layak simak film yang berjudul “To The Bond” yang dirilis oleh Netflix. Dikutip dari Womantalk, film yang menceritakan kisah nyata Lily Collins patut kita contoh.

Lily berhasil sembuh dari penyakit anoreksia. Pada film tersebut Lily Collins sekaligus menjadi pemeran utamanya.  Melalui film To The Bone ini, Lily Collins ingin berbagi pengalaman dengan harapan dapat menginspirasi bagi para penderita yang lain agar terbebas dan sembuh dari perilaku eating disorde.

Sumber: Variety

Menurut National Eating Disorders Association, pengidap anoreksia seringkali terdistorsi dengan apa yang disebut dengan body image (citra tubuh).

Distorsi citra tubuh merupakan ketidakpuasan seseorang terhadap bentuk tubuh atau bagian-bagian tubuh lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan tren yang sedang berkembang.

Para penderita menjadi sangat selektif terhadap makanan yang dikonsumsi, bahkan tidak jarang terlalu membatasi jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuhnya.

Kisah yang dialami oleh Troian Bellisario, seorang aktris sekaligus sutradara asal Los Angeles, California Amerika, mengungkapkan pengalaman mengenai penyakit yang dideritanya sejak masa SMA.

Dalam sebuah wawancara dengan Seventeen Magazine Januari 2014, Bellisario menceritakan, “Saat remaja, saya kerap menyiksa diri saya sendiri, untuk tidak makan sama sekali atau untuk menghindari makan dengan tidak berkumpul bersama teman-teman”.

“Saya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Saya sering membuat daftar menu makanan yang aneh mengenai makanan apa saja yang dapat saya konsumsi untuk menciptakan dunia saya sendiri. Itu benar-benar menyakitkan,” kata Bellisario.

Dalam salah satu pernyataannya, Bellisario menyatakan ingin membantu banyak orang yang terobsesi seperti dirinya, agar mereka mengerti bahwa pola pikir tersebut tidak benar dan sangat menyiksa. “Aku ingin membagi pengalaman yang mengerikan ini agar orang-orang yang aku cintai, teman, kekasih bahkan kedua orang tuaku mengerti.”

Ternyata, Bellisario tidak mengalaminya sendiri. Berdasarkan data yang ditunjukkan oleh National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders, setidaknya 30 juta orang di Amerika Serikat mengidap penyakit (perilaku) yang sama. Bahkan, setiap 62 menit sekali, terjadi peristiwa orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Bellisario pun memiliki keyakinan banyak orang yang berperilaku menyimpang dengan terobsesi menurunkan berat badan atau ingin menjadi kurus dengan cara yang tidak benar.

Apakah seseorang yang sudah mengidap gangguan eating diorder tersebut bisa disembuhkan?

Ada dua pendekatan yang pada umumnya dilakukan dalam proses penanganan penyembuhan eating disorder. Pendekatan pertama adalah “kogniktif treatment” dan yang kedua “family base treatment”.

Treatment pertama, biasanya dilakukan oleh psikolog dengan melakukan terapi cara berpikir (mindset); penderita ditreatment agar mampu mengontrol dan mengelola pikirannya agar tidak terjebak pada obsesi dan hanya fokus pada apa yang dianggap benar menurut persepsi dirinya sendiri.

Treatment kedua adalah pendekatan family base treatment, yang lebih diarahkan kepada terapi sosial. Psikolog melakukan treatment  dengan mengarah perhatiannya pada aspek lingkungan sosial; seperti keluarga atau teman teman si penderita untuk membantu dan mendukung proses penyembuhan dengan memberikan pengaruh positif.

Faktor lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya mindset yang tidak sepenuhnya benar dengan persepsi individu si penderita.

Sumber: medicastore

Data yang dikutip dari National Association of Anorexia Nervosa and Associated Disorders menyebutkan, kasus gangguan makan 95% didominasi oleh wanita dengan rentang usia 12 hingga 25 tahun. 

Wanita merupakan sosok yang peka dengan bentuk tubuh, sehingga munculnya tekanan sosial yang diterimanya sangat berpengaruh terhadap pola berpikir (mindset) bentuk tubuh dan perilaku hidupnya. Banyak kaum wanita yang berpikir bahwa jika mereka kurus, maka mereka akan terlihat lebih cantik menawan.

Akibat lebih jauh dari perilaku gangguan makan (eating disorders) bagi si penderita bisa terkena gizi buruk yang akan berdampak besar pada kesehatan dirinya.

Sangat disayangkan hanya karena terobsesi dengan tubuh yang langsing sebagai ekspresi tubuh yang ideal, seseorang mengorbankan pola makan yang berdampak pada gangguan kesehatan dan mentalnya.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published.