Catatan Gantyo

MENJADIKAN BLOGGER SEBAGAI PROFESI

0 33

MEMBACA kisah Budi Putra, mantan wartawan Tempo yang kini berprofesi sebagai bloger yang dimuat di harian Kompas hari ini (Selasa 20 November 2008) sungguh sangat menarik. Saya baru tahu, ternyata cinta dengan blogger bisa menghasilkan uang. Lebih dari itu, bloger ternyata oleh Budi Putra dijadikan sebagai profesi, sama mulianya dengan profesi sebelumnya (wartawan).

Bahkan profesi barunya itu mungkin lebih mulia, sebab dengan menjadi bloger, seseorang bisa lebih mandiri; malah bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru. Pepih Nugraha, wartawan Kompas yang menulis kisah Budi Putra, menuturkan, tahun 1996, seusai menyelesaikan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, Budi Putra mendapat beasiswa belajar di Jepang. Saat dia berada di Jepang, pesawat Garuda Indonesia DC-10 mendapat musibah, terbelah menjadi tiga bagian di Bandara Fukuoka dan menewaskan tiga dari 261 penumpang yang sebagian besar warga Jepang.

Karena saat itu dia adalah wartawan untuk sebuah harian di Padang, Sumatera Barat, naluri kewartawanannya terpanggil. Ia menulis dan melaporkan peristiwa itu ke koran Singgalang, tempatnya bekerja. Bagi koran daerah, ini berita eksklusif yang dilaporkan langsung on the spot. Ia kirim laporan empat sampai lima kali lewat faksimile yang sangat mahal biayanya.

“Di Jepang internet sudah mewabah, tetapi saya tak tahu bagaimana memanfaatkannya,” kenang Budi Putra, si penerima beasiswa, saat ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta. Akan tetapi, ia segera sadar, “Kalaupun saya bisa memanfaatkannya, apa bisa tersambung ke Padang, wong di Jakarta saja internet masih langka.”

Rasa minder karena gaptek (gagap teknologi), khususnya gagap teknologi informasi (TI), tak membuat dia terasingkan. Justru ia bangkit dan ingin menguasai TI. Apalagi setelah membaca buku Nicolas Negroponte, Being Digital, keinginannya menjadi bagian dari warga digital semakin menggebu-gebu.

Jepang adalah titik awal persinggungannya dengan teknologi internet. Sekembalinya ke Tanah Air, pria kelahiran 12 September 1972 ini langsung mengejar ketertinggalannya. Tetap, bagaimana caranya? Kebetulan di kantor pos Padang saat itu sudah tersedia Wasantara.net, fasilitas milik PT Pos yang saat itu dipergunakan untuk mengirimkan wesel elektronik.

Lewat Wasantara.net itulah Budi Putra yang gemar menulis sejak duduk di sekolah menengah pertama membenamkan diri di depan komputer. Dia menelisik bagaimana internet digunakan dan apa manfaatnya. Perkenalan Budi Putra dengan TI membawanya ke alam yang tidak jauh dari dunia itu. Saat ia menjadi wartawan koran Tempo, ia juga diserahi tugas meliput TI dan mengelola versi on-line. Dengan berbekal ilmu TI yang dimilikinya pula, Budi Putra memutuskan keluar dari koran itu, lalu sepenuhnya hidup dan menghidupi diri dari pengetahuan TI, khususnya internet.

Budi Putra kini benar-benar menjadi seorang blogger. Dari profesi ini, dia mendapatkan uang. Bagaimana caranya? Di Kompas, Budi Putra menjelaskan, seorang bloger dengan keahlian yang dimilikinya bisa diminta sebuah institusi media on-line untuk menulis kolom tetap. Pay bloger mendapat honor dari apa yang ditulisnya, besarnya antara Rp 300.000 dan Rp 500.000 per tulisan.

Bloger profesional, seperti dirinya, juga bisa mengembangkan diri menjadi konsultan blog, tempat bertanya bagi perorangan atau perusahaan yang berminat membuat blog. Dia mendesain blog dan menjadi pembicara. “Saya memilih menjadi pay bloger dan konsultan blog,” kata Budi Putra.

Karena merupakan tambang baru yang belum banyak digali orang, Budi Putra nekat meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan pada 1 Maret 2007 dan kini dia benar-benar sebagai seorang bloger profesional. Dan yang pasti, dia bisa bekerja di mana dan kapan saja.

Jujur, saya masih gagap dalam soal TI. Saya baru bikin bloger kemarin. Artinya usia bloger saya baru dua hari. Untuk mengoperasikannya masih tanya sana sini. Oleh sebab itu melalui tulisan ini, saya mohon para bloger mau memberikan masukan bagaimana bisa memanfaatkan bloger sebagai medium untuk memberikan nilai tambah, terutama di bidang finansial.*

Leave A Reply

Your email address will not be published.