Catatan Gantyo

MARAKNYA MAHASISWA YANG BERPACARAN DI SEKITAR KAMPUS

0 34

JUDUL catatan ini saya kutip mentah-mentah dari judul naskah berita yang ditulis seorang mahasiswa Universitas Esa Unggul. Lugu, polos dan apa adanya.

Melaksanakan tugas menulis berita (menggunakan bahasa Indonesia jurnalistik) yang saya berikan dua pekan lalu, mahasiswa itu melaporkan tentang kebiasaan teman-temannya di kampus, yang menurut dia, tidak islami.

Karena belum berpengalaman menulis berita – apalagi menggunakan bahasa Indonesia jurnalistik — sang mahasiswa menulis berita tanpa struktur, sistematika dan bahasa Indonesia (jurnalistik) yang baik dan benar.

Yang bersangkutan menulis paragraf pertama (lead) lebih dari 300 kata, padahal idealnya, lead maksimal terdiri dari 33 kata.

Saya kutip sebagian: “Di era yang modern ini, sudah banyak sekali yang terjadi di kalangan para remaja, salah satunya adalah berpacaran. Namun, kebanyakan hubungan pacaran yang dijalin oleh para remaja sekarang sudah terlalu melampaui batas-batas syariat Islami. Hal itulah yang seharusnya kita perhatikan, agar kita tidak ikut terjerumus pada hal tersebut.”

Apa yang ditulis mahasiswa di atas jelas bukan berita, tapi opini. Jika tulisan di atas dimuat di surat kabar tanpa diedit, para pembaca boleh-boleh saja berkomentar, “memangnya pacaran nggak boleh? Lha, apa urusannya dengan syariat Islam?”

Tapi saya tetap memberikan apresiasi kepada mahasiswa penulis berita tersebut, sebab dia memberikan ”kesimpulan” seperti itu setelah yang bersangkutan dan beberapa kawannya melakukan pengamatan di sekitar kampus selama sepekan.

”Dari pengamatan yang telah kami lakukan di berbagai lokasi sekitar kampus dapat diketahui bahwa mahasiswa dan mahasiswi yang paling banyak berpacaran (hampir 80%) di kantin,” tulisnya (saya kutip sebagaimana adanya).

Sebelumnya, dia menulis: ”Banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang berpacaran di sekitar kampus, bahkan sampai tidak mengenal waktu. Dari fakta tersebut, dapat dilihat dua masalah yaitu kurangnya moral para mahasiswa yang melakukan pacaran secara berlebihan, dan kurangnya pengawasan dari pihak kampus.”

Bak polisi penjaga moral, mahasiswa ini dalam ”beritanya” memberikan tiga solusi, satu di antaranya adalah memberikan bimbingan rohani (siraman rohani) kepada para mahasiswa yang sedang mabuk asmara agar bergaul secara islami. Dengan demikian, ”mahasiswa diharapkan bisa lebih mengetahui pergaulan dengan lawan jenisnya yang sesuai dengan syariat Islam,” tulisnya.

Saya sengaja mengutip tulisan sang mahasiswa apa adanya agar kita mudah mengetahui dan memahami sampai sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam berbahasa lewat tulisan.

Sebagian besar mahasiswa tampaknya mengalami persoalan super-berat saat mereka harus menuangkan apa yang dilihat, didengar dan dialami dalam tulisan, terutama produk jurnalistik.

Ternyata bukan hanya para mahasiswa, anggota masyarakat yang biasa menulis di rubrik citizen journalism mediaindonesia.com misalnya, tampaknya mengalami hal yang sama. Mereka kerap melanggar logika, tata bahasa, ejaan, titik koma, peristilahan, dan sebagainya. Sebagian besar (bahkan nyaris semuanya) warga mengirimkan naskah ke rubrik citizen journalism bukan karya jurnalistik, tapi pendapat pribadi semacam surat pembaca.

Kalimat-kalimat yang mereka tulis, sulit saya pahami seperti naskah ”berita” (sekali lagi saya sengaja menggunakan tanda petik, sebab yang ditulis bukan berita tapi opini) karya mahasiswa berikut ini:

”Bola itu sangat digemari oleh mahasiswa Esa Unggul hampir setiap hari permainan sepak bola di mainkan oleh mahasiswa, saya senang melihat permainan itu karena unik sebuah permainan sepak bola itu ialah mahasiswa memakai celana panjang dan ada pula mahasiswa yang memakai topi “Baru kali ini saya melihatnya, unik” dan sempat membingungkan juga mana tim dan mana lawan.”

”Saya dilapangan tidak sediri, saya ditemani oleh temen tapi beliau beda fakultas dia fakultas fasilkom dia teman saya dari SMA beliau juga suka nonton sepak bola di kampus tersebut kami sedang menonton bola bareng sambil ngobrol dengan serunya kami lupa waktu.”

Masih banyak contoh kalimat ”berita” karya mahasiswa yang kalau saya baca bisa membuat tangan saya menggaruk-garuk kepala padahal tidak gatal, tetapi juga membuat saya tertawa, karena di sana ada pelanggaran logika.

Ini contohnya: ”Latihan tersebut akan tampil dalam acara Wisuda angkatan 2008 pada tanggal 18 Oktober 2011 yang bertempat di Pullman Hotel Jakarta…”

Lho, yang akan tampil di Pulllman Hotel itu ”latihan” atau orang-orang yang saat itu sedang berlatih?

Tapi tak apalah, namanya juga belajar. Para mahasiswa cepat atau lambat pasti akan mahir menulis produk jurnalistik setelah belajar dari kesalahan di kampus.***

Leave A Reply

Your email address will not be published.