Catatan Gantyo

Baboo, Literasi Generasi Milenial dan Hoaks

0 86

HALO para mahasiswa komunikasi di mana pun Anda berada. Kita sekarang hidup di zaman digital dan dunia seolah ada dalam genggaman kita, terutama ketika kita berkomunikasi dan bertransaksi dengan orang lain.

Saya tidak tahu sampai sejauh mana Anda sudah masuk ke dunia milenial tersebut.

Pekan lalu di kelas, saya telah menjelaskan kepada Anda bahwa dunia teknologi informasi komunikasi berkembang sangat cepat, tidak lagi dalam hitungan tahun, tapi detik.

Tak percaya, lihatlah aplikasi yang ada di Android atau iOS. Juga media komunikasi yang ada di dunia maya dan kini benar-benar nyata. Tempo hari saya membuat catatan kuliah di gantyo.com. Kali lain saya membuat jurnal di Selasardotcom dan menulis opini di Seword.com.

Beberapa hari ini saya menulis (suatu saat bisa menjadi buku) di baboo.id (ada aplikasinya di Android). Aplikasi baboo baru saja diluncurkan hari Kamis 15 Maret pekan lalu. Menggunakan aplikasi ini, saya bisa menulis catatan seperti ini lewat smartphone.

Jika mau, Anda pun bisa memanfaatkan aplikasi baboo (tolong jangan disamakan dengan pembokat, ya) sebagai media untuk menyampaikan pesan atau isi pernyataan kepada manusia-manusia lain (khalayak/publik).

Saya menyukai Baboo, sebab saya bisa memanfaatkannya untuk mengungkapkan gagasan-gagasan saya lewat tulisan dan jika tulisan-tulisan tersebut “ditabung”, oleh pengelolanya bisa dijadikan buku. Dari buku tersebut, saya bisa mendapatkan uang.

Namun, sampai sebegitu jauh, saya belum mengetahui bagaimana teknis dan prosedurnya. Buat saya, gagasan atau pesan yang saya ungkapkan lewat tulisan bisa sampai ke komunikan jauh lebih penting dan membanggakan daripada uang.

Saya tidak mungkin bebas menuangkan gagasan seperti ini di media cetak, seperti surat kabar atau majalah. Setiap hari pengelola media cetak hanya menyediakan satu atau dua halaman opini di surat kabarnya, sedangkan anggota masyarakat seperti dosen, pakar atau penulis yang mencoba memasukkan tulisan ke redaksi sangat banyak.

Mau tidak mau para penulis harus antre dan tidak ada jaminan artikelnya dimuat. Lewat Seword, Selasar, Kumparan, Geotimes, Qureta, Baboo dan portal opini lainnya, bahkan blog sendiri, kita kini leluasa menulis apa dan kapan pun.

Itu di bidang komunikasi (jurnalistik), sedangkan di sektor ekonomi, aplikasi-aplikasi bisnis dan transaksi online terus tumbuh dan menggurita.

Jack Ma lewat toko online Alibaba-nya membuat laki-laki asal China itu semakin kaya. Diperkirakan kekayaannya di awal tahun ini mencapai 42,2 miliar dolar AS. Liputan6dotcom belum lama ini memberitakan dalam sehari, kekayaan Jack Ma bertambah Rp 37 triliun!

Di Indonesia ada Blibli, Bukalapak, dan Tokopedia. Di dunia traveling, ada Traveloka, Tiket, Pegipegi, dan entahlah apa lagi. Keberadaan mereka membuat perusahaan biro perjalanan tumbang satu demi satu.

Di sektor angkutan ada Gojek, Grab, Uber dan masih banyak lagi. Keberadaan pengelola aplikasi ini membuat perusahaan taksi konvensional dan ojek pengkalan megap-megap.

Keberadaan Airbnb, hotel berbasis digital atau hotel online, sebagaimana ditulis Baboo, mulai membuat jengah para pebisnis hotel konvensional. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan keberatan terhadap model bisnis semacam Airbnb yang mengancam industri hotel.

Harap maklum, konflik hotel digital versus hotel konvensional tak berbeda dengan pertarungan layanan transportasi online versus konvensional, e-commerce versus toko ritel konvensional dan mungkin yang akan terjadi layanan teknologi finansial versus perbankan konvensional.

Bayangkan lewat aplikasi Airbnb, kita bisa mendaftarkan rumah milik kita untuk disewakan layaknya kamar hotel atau penginapan. Bulan Desember 2017 lalu untuk keperluan liburan, saya menyewa sebuah rumah — lokasinya di sebuah kampung di Yogyakarta — melalui Airbnb.

Cukup mengeluarkan uang sewa Rp 900.000 per hari, saya mendapatkan rumah berlantai dua dengan empat kamar. Rumah dilengkapi dapur berikut peralatannya, kamar full AC dan ada pula mesin cuci. Hotel mana yang menyediakan fasilitas seperti ini?

Sebagaimana pernah saya tulis di Selasar dan Seword, koran ternama di Yogyakarta (Bernas) sudah berstatus almarhum. Saat ditutup (tidak terbit lagi), oplah koran tersebut tinggal 2.000 eksemplar, padahal pada saat masih berjaya, koran nomor dua setelah Kedaulatan Rakyat itu pernah mengalami cetak hingga 80.000-an eksemplar per hari.

Cepat atau lambat, dunia perbukuan (cetak) juga akan mengalami kelesuan. Sebulan yang lalu, saya masuk ke toko buku Gramedia. Sepi pengunjung. Stok buku mulai berkurang.

Saya menduga, para pembaca buku cetak beralih ke buku digital. Dugaan saya keliru, sebab banyak mahasiswa yang tidak punya aplikasi baca buku seperti “Play Buku” (Google).

Beberapa buku yang saya tulis di sana, seperti Merekayasa Fakta Menjadi Berita, belum banyak yang membeli.

Zaman boleh berubah dan terus berkembang, tapi minat baca buku masyarakat Indonesia tidak berubah, masih begitu-begitu saja. Ya, rendah.

Saya bisa pahami jika dilatarbelakangi fakta seperti itu, Andang Ashari, direktur marketing PT Infomedia Nusantara, sebagaimana diberitakan Kumparan (13 Maret 2018) mengatakan, Indonesia merupakan negara yang budaya literasinya masih minim.

Berdasarkan riset dari UNESCO, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang suka membaca buku. Rendahnya budaya literasi ini ditengarai menjadi penyebab tingginya perilaku penyebaran hoaks. Banyak informasi yang tidak jelas justru dipercaya dan dianggap benar.

“Bahkan banyak yang menge-like berita di media sosial yang dianggap benar,” ujar Andang dalam seminar nasional bertajuk “Perpustakaan di Era Disrupsi dan Pasca Disrupsi” di kampus UGM, Yogyakarta.

Sampai sedemikian jauh, saya belum tahu, ke depan Baboo akan seperti apa? Bisakah aplikasi ini mengundang minat para penulis senior atau yunior dan melahirkan buku-buku digital bermutu. Maklum saat saya menulis catatan ini, usianya belum genap sepekan.

Saya berharap Baboo bisa menjadi alternatif bagi para penulis untuk melahirkan buku digital yang mengundang minat baca generasi zaman now.

Pengalaman saya, menerbitkan buku digital lewat aplikasi Google Buku (Google Book) dan media lain sangat rumit, terutama menyangkut perjanjian dan transaksi lewat bank.

Semoga Baboo ke depan bisa memberikan secercah harapan bagi dunia perbukuan digital di negeri ini dan menyadarkan generasi milenial untuk berliterasi secara lebih bertanggung jawab, bukan hanya doyan menyebar hoaks.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published.