Catatan Gantyo

Demi ‘Hidayah’, Sang Caleg Rela Keluarkan Rp 5 Miliar

0 1


BANYAK “hidayah” yang dialami seseorang sehingga ia rela berkorban demi tekadnya memperjuangkan apa yang dikayakininya sebagai upaya untuk menyejahterakan rakyat.
Sahat Silaban, calon anggota legislatif (caleg) Partai NasDem untuk DPR-RI dari daerah pemilihan (Dapil) Sumatera Utara 2 dengan nomor urut 2, juga punya pengalaman seperti itu.  Pria yang lahir di Tapanuli Utara 19 Januari 1960 ini menjadi anggota Partai NasDem dan caleg  karena panggilan Tuhan. Demi “hidayah”, ia rela mengeluarkan kocek hingga Rp 5 miliar, padahal kampanye belum dimulai.
Sahat Silaban, Caleg DPRRI Dapil Sumut 2.
Baginya, “Partai NasDem itu ibaratnya jodoh untuk keluarga saya. Jodoh untuk para petani, nelayan dan orang-orang miskin yang masih banyak di banyak tempat di bumi nusantara ini,” kata Sahat.
Lalu mengapa Partai NasDem dipilih Sahat sebagai kendaraan politiknya untuk menuju ke Senayan? Sahat mengaku, selama ini tidak pernah mengenal dunia politik, apalagi menjadi anggota sebuah partai politik.
Ia tertarik bergabung ke NasDem setelah mendengar pernyataan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di televisi yang intinya siap mengorbankan waktu, harta dan nyawa untuk republik tercinta Indonesia tanpa membeda-bedakan latar belakang golongan, agama dan status sosial.
Nah itulah awal Sahat mendapatkan hidayah. “Saya terharu mendengar pidato Pak Surya, sebab ternyata masih ada orang di negeri ini yang peduli dengan nasib bangsanya dan bercita-cita mengubah kondisi bangsanya lebih baik dengan semangat pluralisme. Saya menangis mendengar kata-kata Pak Surya,” kata Sahat yang matanya kemudian berkaca-kaca.
Setelah mendengar cita-cita mulia Ketua Umum Partai NasDem seperti itu, tanpa pikir panjang Sahat Silaban melangkahkan kaki ke kantor DPP Partai NasDem di Jl Gondangdia Lama (RP Suroso) Jakarta Pusat. Ia mengistilahkan “akan melamar menjadi anggota partai.”
Dengan polosnya, ia bertanya kepada pengurus partai, “bolehkah saya melamar menjadi anggota partai, sementara saya hanya lulusan SLTA?” Tentu saja “lamaran” Sahat diterima, sebab untuk menjadi anggota partai, tidak ada syarat baku harus berpendidikan minimal sarjana (S-1).
Sahat Silaban beriman, Tuhan-lah yang mengatur semua itu. “Tuhan telah menjodohkan saya dengan NasDem.”
Perjodohan itu semakin mantap setelah partai mempercayakan Sahat  duduk sebagai caleg DPR-RI untuk daerah pemilihan Sumatera Utara 2 dengan nomor urut dua. Dia tidak peduli dengan nomor urut. “Yang penting, perjuangan saya adalah memenangkan NasDem. Jika pun nanti saya terpilih menjadi anggota DPR, saya bisa mengawasi penggunaan anggaran agar tepat sasaran dan tidak dikorupsi,” tegasnya.
Profesi Sahat sekarang adalah pengusaha. Sebelum sukses menjadi pengusaha seperti sekarang, Sahat dulu adalah anak petani miskin. Setelah lulus STM di tempat kelahirannya, ia merantau ke Jakarta dan kuliah di ISTN (Institut Scien Teknologi Nasional), tapi putus di tengah jalan, sebab orang tuanya tidak mampu membiayai.
Semasa kecil, Sahat bergulat di kampung halamannya, Tapanuli. Ia menamatkan SD pada 1972 di  SD Sopobutar, Sumatera Utara. Lulus dari SD, Sahat melanjutkan pendidikan di SMP Litong Nihua, sedangkan STM-nya dia tekuni di STM Negeri Dolok Sanggul.
Di kampung halamannya, anak pasangan P Silaban (Op Tobak Doli) dan Vehoria Samosir (Op Tobak Boru) ini terbiasa hidup sederhana. Jika pun kemudian dia memutuskan menjadi pengusaha dan menjadi caleg (tentunya kelak bisa menjadi anggota DPR), karena ia ingin menebus kegagalan masa lalunya di mana kemiskinan terus menghimpit saudara-saudaranya dan warga di daerah pemilihannya (Sumatera Utara 2), antara lain Tapanuli Utara.
“Saya menjadi caleg bukan atas dorongan orang lain atau saudara, tapi atas inisiatif sendiri, karena saya punya kerinduan untuk menyejahterakan masyarakat di kampung halaman saya,” ujarnya.
Orang boleh saja menilai Sahat Silaban yang dulu miskin, sekarang telah menjadi orang kaya. “Buat saya penilaian itu tidak ada artinya jika saya belum mampu memperjuangkan dan menyejahterakan saudara-saudara saya di kampung halaman,” tegasnya.

Saat ini Sahat menjabat sebagai Direktur Utama PT Tobas Tegarindo. Sahat tidak saja dikenal sebagai sosok pengusaha, tapi juga sosok yang memiliki jiwa sosial. Buktinya adalah ia adalah salah salah seorang   pendiri Koperasi Serba Tani Pomal di Humbahas.

Dia mengaku hidupnya sekarang sudah berkecukupan. “Uang yang saya miliki tidak akan saya bawa mati, dan saya yakin jika saya bisa membuat orang lain lebih sejahtera, maka sesungguhnya itulah kekayaan saya,” ujar Sahat.
Kampanye pemilu belum dimulai, tapi Sahat mengaku sudah menghabiskan dana sedikitnya Rp 5 miliar untuk membiaya jalan menuju ke Senayan. Uang itu antara lain dipakai untuk mencetak dan memasang baliho. “Untuk keperluan ini, saya telah mengeluarkan Rp 300 juta,” katanya.
Ia juga membeli ambulans dan beberapa buah mobil untuk kampanye nanti. Agar komunikasi ke calon pemilih efektif namun lebih hemat biaya, ia juga memanfaatkan cara-cara kampanye modern dengan menggunakan teknologi informasi komunikasi berupa video newsletter.
Melalui  teknologi canggih dan elegan tersebut dia bisa menghemat biaya kampanye, karena video newsletter seperti itu bisa dikirim ke 3.000 email sekaligus. Lihat sosoknya di video newsletter ini. Baginya, software seharga 1.500 dolar itu bukanlah masalah. “Yang penting saya bisa menyapa siapa pun dan linknya bisa saya kirim lewat BBM, SMS atau lewat sosial media,” katanya.[]

Leave A Reply

Your email address will not be published.